Bagian Dua Puluh Lima: Surat Kecil Dariku yang Sedang Merindu

 


        Malam ini, izinkan aku menulis guratan rinduku padamu yang tiba-tiba saja datang entah darimana asalnya. I thought I was just doing fine after all this time, tapi kenangan yang kulalui bersama denganmu sekian tahun lalu melintasi pikiran. Daripada aku semakin berlarut lebih jauh, lebih baik kucurahkan semua dalam tulisan ini.

        Awalnya, aku hanya sedang nongkrong biasa dengan sahabatku sampai seketika ingatan tentangmu muncul tanpa diundang. Aku bercerita dengan bangga bahwa aku pernah dicintai sebegitu hebatnya olehmu. Tentang bagaimana aku seterbuka itu denganmu mengenai luka-luka yang pernah kulalui, dan hebatnya kau tidak sedikitpun lari dariku ketika mengetahui semua beban yang selama ini kusimpan dalam diam.

        Lagu-lagu dari Pamungkas menjadi lagu yang menemaniku sewaktu aku baru dekat denganmu. Terkadang aku masih mendengarkannya terutama lagu Deeper yang sangat membekas dalam ingatanku tentangmu.

        Aku ingat bagaimana saat awal memulai hubungan denganmu, aku masih meraba-raba bagaimana cara mencintai seseorang dengan sebenar-benarnya. Aku belum terbiasa dengan hubungan yang sehat karena terbiasa melatih diri dengan chaos yang terkadang datang beruntutan. Dan kehadiranmu kala itu mampu membawa damai yang selama ini kudamba-dambakan.

        Aku ingat juga upayaku untuk belajar bagaimana memulai dan menjalani hubungan yang sehat agar terus bisa bersamamu kala itu. Podcast mengenai relationship yang saat itu gemar kudengarkan, perlahan membuka mataku bahwa ternyata cinta tidak semenakutkan yang ada dalam pikiran. Ternyata aku juga bisa loh dicintai dan mencintai setenang ini.

        Saat-saat favoritku adalah ketika aku menghujani pesanmu dengan belasan pap wajah dengan beragam ekspresi. Melihat reaksimu yang selalu excited selalu menjadi moodbooster utamaku setiap harinya. Aku juga ingat, semakin lama kau bersamaku, semakin beragam juga ekspresi wajah yang kau lakukan dalam setiap pap yang kau kirimkan. Apalagi pose monyong andalanmu yang gemar meniru diriku (itu pose andalanku!).

        Kau juga orang pertama yang memberiku bucket mawar merah padahal aku baru sekali mengatakannya. I was really happy to finally receive those flowers from you. Fotonya juga masih ada kuabadikan, sayang rasanya jika harus berdebu dalam arsip instagram.

        Delapan bulan hubungan berjalan, kau memilih menyambangiku tepat di bulan ulang tahunku lima tahun yang lalu. Masih kuingat jelas hal yang pertama kulakukan saat menyambutmu di bandara adalah memeluk tubuh tinggi besarmu dan kau yang mengusap puncak kepalaku. Masih kuingat juga nama parfum dan aroma yang kau kenakan saat itu, lengkap dengan kemeja flanel yang sangat pas dibadanmu.

        I still remember the first time you lean in for a kiss. I was holding back myself because I was still shy dan kata pertama yang keluar dari mulutku hanya “Beneran?” yang kau balas dengan tertawa kecil sembari mencondongkan lagi tubuhmu untuk menciumku. Pardon my blurry memory but one thing I remember is you mocked me because I was hesitate with the thought of us kissing each other. 

        Lucu juga sih kalau diingat-ingat.

        I was so happy that I finally meet you. 

        Kau membelikanku satu boneka beruang besar berukuran sepertiga tubuhku untuk kado ulang tahun yang kuberi nama Chino. Chino kabarnya baik, masih kusimpan juga sampai sekarang dan sudah aku laundry beberapa bulan lalu saat pindahan rumah. Boneka lucu itu aku yang pilih sendiri. Teringat olehku video yang kau ambil ketika aku memeluk boneka itu. Bersamamu, aku benar-benar kembali menjadi anak kecil yang menemukan dunianya lagi.

        Aku masih ingat juga bagaimana hampir setiap waktu kau selalu memandangiku dengan penuh cinta karena aku bisa merasakannya. Sorot mata yang lembut, penuh kasih sayang dan hendak selalu menjagaku selalu terpancar dari kedua matamu. And I kinda miss that. Tatapan mata yang tidak pernah aku temukan lagi dari lelaki lainnya selain dirimu.

        Saat itu, photobox belum se-hype sekarang dan kita memilih untuk melakukan foto studio bersama. Seusai foto itu, aku ingat sekali kita mampir untuk makan roti canai yang sangat kau suka itu. Lengkap dengan teh tarik dingin yang tidak kalah enaknya. Terkadang hasil foto studio itu (dan tentunya fotomu dan foto kita yang lainnya) masih seringkali muncul di Google fotoku dan aku hanya bisa tersenyum melihatnya.    

        I also remember that one little kiss that we did back in Tepian dikala kau hendak kembali ke Jakarta keesokan harinya. I was really happy melihatmu yang ragu-ragu karena takut ketahuan orang lain. We were just sitting around and staring at each other, talking about things dan aku merasa aku sudah memiliki apa yang aku mau di dunia ini.

        Hal lain yang gemar kulakukan untukmu adalah memasakkanmu makanan. Aku rela bangun sangat pagi kala itu untuk memasakkanmu sambal gami yang penuh dengan tomat walaupun kau tidak suka tomat. Aku tidak tahu apa alasanmu tetap memakan tomat-tomat yang sudah aku masak itu, karena kau sayang denganku atau karena memang sambal gami buatanku yang enak. Terlepas apapun alasannya, terimakasih sudah mau memakan apapun yang pernah kumasak untukmu dengan lahap.

        Tidak tahu kenapa ketika berpacaran denganmu membuatku gemar sekali memasak, padahal aku tidak serajin itu. Aku juga bingung kemana hilangnya diriku yang seringkali memasak itu. Orangtuaku bahkan bilang “Kamu ini rajin masaknya kalau punya pacar aja,” dan aku hanya tersenyum kecut mendengarnya.

        Kau juga alasan kenapa aku mau makan mie ayam dan nasi padang lagi. Kau yang tampak kaget karena aku berkata tidak suka mie ayam karena Mama yang dulu hampir setiap hari beli mie ayam, padahal keluargamu punya kedai mie ayam bakso yang benar-benar enak. Hahaha aku tertawa kecil ketika mengingat dan mengetikkan ini. Sampai hari ini, ketika aku harus makan mie ayam atau nasi padang, orang pertama yang kuingat adalah dirimu.

        Kau ingat Keshi? Satu penyanyi yang sangat aku sukai dan kau kucekoki dengan lagu-lagunya. Setelah hubungan kita berakhir, aku tidak pernah benar-benar mendengarkannya lagi tapi malam ini, aku menulis tentangmu sambil mendengar playlist berisi lagu-lagu Keshi. Oh iya, bagaimana konser Keshi yang waktu itu kau datangi setelah kita putus? Pasti seru sekali ya? Hahaha.

        Oh iya, bagaimana kabar Mouyi? Anak kucing kecil yang kita adopsi bersama secara tidak sengaja dari Facebook. Kulihat dia sangat aktif, gembul dan juga lincah ya dari beberapa video di story Instagram milikmu. Fakta bahwa dia tiba-tiba menjadi selebcing di Tiktok cukup mengejutkanku. Hahaha. Kau benar-benar menjadi Papa dan membesarkannya dengan baik. Terimakasih ya!

        Aku tidak tahu kenapa bisa selama hampir dua tahun bersama, rasa cintaku tidak pernah sehari pun berkurang terhadapmu. Tidak pernah ada satu haripun dimana aku bosan dan enggan berbicara denganmu. Aku benar-benar menyayangimu dengan sepenuh hatiku, bahkan disaat hari-hari ‘susah’ itu datang. Kau yang selalu mengupayakanku dengan segala cara ketika aku ingin menghindar, kau yang selalu dengan sabar menjelaskan sesuatunya padaku dan mengkomunikasikan segala hal seberat apapun itu. Kau yang menjadi tempatku bersandar dikala aku hancur melebur. Aku merindukan segala hal tentangmu.

        Aku juga tahu bahwa ternyata aku selama ini jahat sekali karena tanpa sadar membandingkan cinta lain yang datang padaku dengan cinta yang kau beri. Pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah kedepannya aku akan merasakan cinta seperti itu lagi terkadang menghantui. Yah, aku juga tidak terlalu berharap banyak. Kalaupun semisal itu menjadi kali pertama dan terakhir aku merasakannya, I didn’t regret a single thing. Aku justru berterimakasih karena di hidup yang sesingkat ini, kau mengizinkanku merasakan cinta seperti yang kita miliki dahulu.

        Terkadang aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya kamu rasakan terhadapku. Apakah pikiran tentangku terkadang masih sering melintasi pikiranmu selayaknya apa yang aku rasakan ketika menulis ini? Di malam-malam tertentu, pikiran tentang apa harusnya diriku memperjuangkanmu lebih jauh kerap datang. Kita bukan berpisah karena tidak lagi saling mencintai, dan itu yang benar-benar menyakitiku.

        Jujur tulisan ini kutulis murni karena aku yang merindukanmu saja. Tidak ada harapan lebih yang tersirat dibalik semua ini. Bahkan, untuk berharap bahwa ‘benang merah’ kita bertemu lagi pun aku tidak berani. Tulisan ini juga kubuat sebagai bukti bahwa tidak ada lagi kebencian dariku yang tersisa untukmu. Kau selalu punya ruang kecil di dalam hatiku, dan akan selalu kujaga ruangan itu entah sampai kapan.

        Aku benar-benar berharap kau bahagia sekarang dengan wanita pilihanmu. Kuharap kau mencintai, menjaga, dan meratukan dia selayaknya yang kau lakukan padaku dahulu. Malah harusnya lebih. Tetaplah sayangi dia dan jadikan dia satu-satunya dihatimu. Mengenai kesalahanku yang terus-menerus membandingkan cinta baru yang datang dengan apa yang dulu sempat kita miliki, biarlah kulakukan itu seorang diri. Jangan sampai kau lakukan juga di hubungan barumu, ya?

        Sekian tulisanku hari ini, terimakasih sudah berkenan membaca!


Komentar

Banyak Dibaca

Intro: Tak Baca Maka Tak Sayang

Bagian Sepuluh: Esensi dari Merasa Cukup

Bagian Tujuh: Terlahir Menjadi Kidal