Bagian Dua Puluh Satu: Perihal Rindu yang Enggan Kusampaikan
Terhitung dua bulan sudah sejak terakhir kali aku melihatmu, masih orang yang sama dalam tulisanku bagian ke dua puluh lalu. Lebih enam puluh hari membiasakan diri tanpa kehadiranmu, apakah aku mulai terbiasa? Jawabannya tidak dan aku sangat membenci itu. Fakta bahwa aku harus melalui semuanya sendirian membuatku cukup tersiksa disini. Setiap sudut kota yang pernah kita lewati, tempat makan yang pernah kita singgahi, cafe tempat kita bertemu sepulangku kerja, dan berbagai tempat lainnya yang kusambari seorang diri sambil bergumam, "Harusnya bisa kesini sama dia," terus berlalu-lalang dipikiran. Apakah aku akan mengungkapkan semuanya padamu? Tentu tidak. Itulah sebabnya aku menuangkan semua kegundahanku dalam tulisan ini. Berharap kau tidak sebegitu peduli bahkan untuk meluangkan waktu membaca semua perasaanku yang tidak mungkin kusampaikan langsung padamu. Aku benci fakta bahwa aku begitu sayang padamu sementara kau terlihat tidak begitu peduli padaku. Aku tidak suka mengemis...