Bagian Dua Puluh Sembilan: Teruntuk Sahabatku Lily Dihari Jadimu

 



Lilyana namanya. Gadis bertubuh mungil kemasan sachet dibawah 150cm–lebih pendek dari tubuhku yang sudah tergolong petite. Aku mengenalnya sejak zaman SD, kalau tidak salah ingat ketika duduk di bangku kelas empat, kelas kita bersebelahan karena aku berada di 4B sedangkan kau ada dikelas 4C. Kalau aku bisa mengingat kesan pertamaku saat bertemu dirimu, pastilah kata hatiku berkata begini:

Buset, kecil-kecil cabe rawit. Biar badannya kecil tapi suaranya menggelegar.

Serius. Gak bohong sama sekali. Apalagi kalau sudah keluar tawanya, gak ada lawan!

Kita mulai berteman baik ketika duduk di bangku kelas lima. Memang tidak satu kelas, tapi Dinda akhirnya mengenalkanmu ‘secara resmi’ denganku karena ekskul basket yang saat itu kita ikuti di setiap hari kamis sore. Maklum, namanya juga anak-anak yang dijemput lama sama orangtuanya, jadi segala macam ekskul disikat aja yang penting selesai sebelum Magrib.

Dengan suara cemprengmu yang ternyata tidak berubah sampai kau beranjak dewasa hari ini, aku semakin mudah mengenalimu bahkan dari kejauhan. “Oh Lily udah dekat,” Ujarku tiap kali mendengar suaramu menggema bebas di udara. 

Masih jelas diingatan ketika kau sedang cinta-cintanya dengan mantanmu si Juan sialan, sampai-sampai ketika Juan ulang tahun, kau memohon denganku dan yang lainnya untuk menemanimu membelikannya sepatu Tomkins yang saat itu sedang hype di Ramayana mall SCP. Bayangin, empat orang anak-anak berseragam SD putih hijau harus jalan kaki (atau saat itu naik angkot aku lupa) dari Jalan Berantas sampai Mall SCP. Demi satu orang cowok sialan yang tidak tahu terimakasih pula.

Ada lagi kebiasaan kita mengunjungi warnet di dalam gang Jalan Imam Bonjol untuk sekedar bermain Facebook dan Youtube. Saat itu sekitar tahun 2011 sampai 2012 kita rutin mengunjungi warnet itu bersama Dinda dan Jesica. Menulis status-status alay yang sampai saat ini masih ada di Facebook-ku, lengkap dengan jajan tela-tela dan  pop ice beragam rasa di perjalanan pulang.

Menghabiskan waktu seusai sekolah denganmu dan Dinda adalah masa-masa yang paling kurindukan sekarang. Apalagi kalau ada yang bawa laptop atau ponsel, makin betah dan gak tau waktu deh kita bertiga. Segala jajanan SD yang saat itu ada di deretan SD Muhammadiyah 1 sudah khatam dicoba, bahkan Pakle Sosis aja sampai tahu kalau kau pacarnya Juan. Hahaha.

Ingat gak pas lagi hype banget SMASH dan Cinta Cenat Cenut kita sampai bikin koreografi lagu SMASH yang judulnya I Heart You sampai bela-belain latihan dance sepulang sekolah? Aku lupa kau jadi siapa yang jelas aku ambil bagiannya Bisma. Hahaha. Fun fact aku menulis ini sembari mendengarkan lagu SMASH berjudul Selalu Bersama yang kurasa cukup relate dengan situasi sekarang.

Ketika beranjak SMP, aku, kau, Dinda, Jesica, dan yang lain berbeda sekolah. Tapi saat itu kita berapa kali janjian untuk bertemu dan bermain di SD lagi walaupun sudah lulus, mencari kelas kosong yang bisa kita tempati untuk sekedar berfoto selfie (foto-fotonya juga masih abadi di akun facebookku).

Sampai ketika masa SMA dan SMK kita sibuk masing-masing, bertemu lagi saat itu ketika Kiky mengundang bubuhan kita di acara ulang tahun. Dan mulai dekat lagi ketika saat itu aku rajin mengadakan acara bukber untuk anak-anak SD, kalau tidak salah rame-ramenya itu tahun 2018 dan 2019 silam.

Kita mulai sering jalan berdua, bertukar cerita selayaknya teman lama yang berjumpa kembali. Aku sempat menjemputmu dirumah lamamu dan kau juga berapa kali datang kerumah lamaku hanya untuk bertukar cerita yang gak ada habisnya.

Semakin aku mengenalmu, semakin aku mengerti omongan banyak orang yang berkata bahwa “Semakin terang cahaya seseorang, maka semakin gelap pula bayangannya.” Melihatmu itu seperti sedang berkaca dengan diriku sendiri dengan versi yang berbeda. Garis luka kita juga ada yang plek-ketiplek sama walaupun sisanya berbeda. 

Dari luar, kau memang orang yang sangat ceria. Lengkap dengan tawa yang renyah sekaligus melengking, kuakui kau adalah orang yang paling lihai menutup semua luka-lukamu yang selama ini kau pelihara dalam diam. Saking lihainya, kau bahkan mampu menceritakan itu dengan menyelipkan sebuah tawa yang terdengar lirih ditelinga.

Aku tidak akan menguraikan luka-lukamu dalam surat ini. Tapi seperti yang selalu kubilang padamu setiap bertemu, jangan biarkan luka-luka itu mendefinisikan siapa dirimu ya Lily. Walaupun memang, luka-luka itulah yang membentuk dirimu sampai hari ini. Diri yang kau anggap rapuh padahal luar biasa kuat itu. Selalu ingat bahwa dirimu adalah satu-satunya yang kau miliki di dunia, dan dirimu itu jauh lebih berharga dari semua badai yang pernah menghantammu.

Kita sebagai manusia memang memiliki keterbatasan untuk mengendalikan perilaku orang lain terhadap kita. Terkadang semena-mena, bisa juga menyebalkan, namun disaat yang lain bisa jadi perlakuan itu sangat manis sampai mampu mengukir senyum tiada terkira. Apapun itu, lepaskan kendali itu ya sayangku dan mulai berpegang penuh pada dirimu sendiri terutama pikiran dan perasaanmu.

Utamakan dirimu sendiri sesekali walaupun harus menjadi egois. Tidak pernah ada yang salah dengan menjadi egois demi kebaikan diri sendiri. Belajarlah dariku dan teman-temanmu yang lain yang berpegang teguh pada prinsip dan batasan diri. Tidak semua orang menggunakan otak dan perasaannya dengan benar untuk memikirkan kita seperti yang kita lakukan terhadapnya. Tidak semua cinta berbalik dengan sama besarnya. Tidak semua perlakuan baik mendapat kata terimakasih yang pantas dan mau tidak mau kita harus berdamai dengan itu.

Aku berharap kau tidak melewatkan makanmu ya Ly. Aku harap kau selalu bisa merasakan makanan-makanan enak yang ada di dunia walaupun kapasitas perutmu tidak seberapa. Aku berdoa agar nasi yang kau suap selalu hangat dan lauk yang kau makan selalu lauk favoritmu.

Sama seperti sahabat-sahabatmu yang lain, aku pastikan aku akan berusaha selalu ada kapan pun kau membutuhkanku disisimu. Aku harap kau tahu betapa beruntungnya aku memilikimu sebagai sahabat yang mewarnai hari-hariku yang tidak selalu cerah. Terimakasih karena sudah mau berteman lama denganku, tetaplah mencoba banyak coffee shop dan konser-konser lainnya denganku ya Lily. Aku sangat senang dan beruntung bisa bertemu denganmu dihidupku yang singkat ini.

Kalau kau sedang banyak pikiran yang mengganggu, jangan ragu untuk menghubungiku ya Lily. Aku siap menjemput, menemani, dan mengantarmu kemana saja jika aku bisa. Cari live music DJ? Ayo. Konser dadakan di kota sebelah? Gas kita antri paling depan. Nasi goreng di coffee shop baru? Buru kita cobain bareng Dinda. Karaoke pake lagu ST12? Aku jabanin playlist angkotmu semuanya. Cari koleksi OOTD warna-warni yang matching dari ujung kepala sampai ujung kaki? Akan kutemani semuanya sampai badan remuk. Anything that makes you happy, I’m in.

Tetaplah menjadi centil dan ceria seperti dirimu biasa. Dirimu yang kukenal sejak kecil. Itulah Lily yang asli, yang kukenal selama hampir sepanjang hidupku, bukan Lily yang overthinking ditengah sampai sepertiga malam. Seberat apapun harimu, telingaku akan siap sedia menampung segala keluh kesahmu selayaknya yang kau lakukan untukku.

Kucukupkan surat di hari jadimu ini sampai sini ya, Ismi sayang Lily selalu dan selamanya ♡


Komentar