Bagian Dua Puluh Dua: Teruntuk Cinta dan Patah Hatiku Yang Pertama
Malam ini, tepat pada tanggal 14 Mei dihari ulang tahunmu, aku memilih untuk menuliskan ini. Dengan berat hati, aku harus menulis surat ini untukmu, cinta dan patah hati pertama selama aku hidup. Berat untukku membuka semua hal yang berkecamuk di dalam hati. Selama ini semampu tenaga hanya kututup rapat semua luka yang kupikir tidak terlalu dalam, namun yang kulihat hanya sebatas permukaannya saja.
Menjelang dua puluh enam tahun hidupku, banyak sekali memori yang terukir antara kau dan aku. Kau yang sangat khawatir ketika diwaktu kecil aku yang terlalu aktif ini membenturkan kepalaku dengan sengaja ke meja kaca hingga pecah, atau ketika aku mengayuh sepeda pertamaku yang beroda empat, atau juga hari pertama aku masuk sekolah yang masih terekam jelas dalam kepalaku.
Seiring aku beranjak remaja, sosokmu mulai jarang kujumpa. Kau memilih untuk bekerja jauh dari keluarga. Saat itu, kupikir semua hal akan baik saja seperti semestinya. Namun sejak kepergianmu itu, aku harus melewati badai demi badai yang harus kuhadapi seorang diri. Tumbuh dewasa dalam pengabaian dan perhatian yang tidak cukup ternyata membekas sampai diriku dihari ini. Luka atas pengabaian itu, membuatku sangat membenci dicampakkan dan disisi lain, membuatku terus mencari sosok pengganti yang bisa memberiku semua perhatian yang tidak pernah kudapatkan itu.
Bertumbuh dewasa, aku harus menyaksikan pengkhianatan demi pengkhianatan yang kau lakukan sampai aku tidak lagi bisa percaya padamu. Aku terus menyaksikan pengabaian demi pengabaian yang kau lakukan demi ego dan kepentingan dirimu semata. Kau tidak pernah benar-benar hadir untuk kami secara emosional, dan itu membuatku enggan untuk membuka hatiku lagi untukmu.
Dan sekarang, semakin aku belajar tentang energi, spiritualitas, dan sebagainya, aku makin memahami bahwa tidak peduli seberapa keras aku berusaha memperbaiki sisi feminimku, ternyata luka yang selama ini kucari-cari berada disebelahnya, yaitu disisi maskulin. Mungkin itu sebabnya aku selalu menarik laki-laki yang juga terluka sisi maskulinnya, selayaknya dirimu dahulu.
Muncul sebuah pertanyaan dikepalaku, apa karna hubunganku denganmu kurang begitu baik yang menyebabkan urusan hatiku selalu gagal? Apa aku sebagai anak perempuan pertama harus menanggung semua karma yang dulu pernah kau lakukan? Karena jika kuperhatikan sekelilingku, mereka yang hubungannya baik saja dengan ayahnya, percintaannya pun juga baik saja. Apa karena sisi maskulin mereka tidak terluka selayaknya sisi maskulin yang aku miliki? Apa karena rasa percaya mereka terhadap laki-laki masih sepenuhnya utuh, tidak sepertiku yang tergores luka bahkan nyaris hancur?
Mungkin karena melihat apa yang sudah kau perbuat, membuat pandanganku terhadap pernikahan semakin hari kian sinis. Di dalam otakku, pernikahan tidak lagi menguntungkan bagi wanita. Jauh di lubuk hatiku, aku sangat takut jika harus berakhir seumur hidup dengan lelaki sepertimu. Aku tidak ingin mengulang kesalahan dan kebodohan yang sama.
Bukan hanya perkara pernikahan, bahkan memilih untuk mengorbankan tubuhku dan memiliki anak pun aku enggan karena aku tidak punya sosok nyata figur laki-laki yang benar-benar hadir di tumbuh kembang anaknya. Melahirkan seorang manusia ke dunia dalam keadaan memiliki suami atau ayah yang tidak bertanggungjawab adalah neraka dunia bagiku. Dan aku memilih untuk menghindari jalan tersebut.
Berat juga bagiku menyaksikan adikku yang bersedih karena kehilangan sosokmu. Dia masih begitu kecil untuk kau tinggalkan. Bagaimanapun usaha Mama merawat kami, tetap tidak akan bisa menggantikan sosokmu.
Aku ingat betul satu kebiasaanmu yang gemar menyiram tanaman sambil duduk di depan rumah dimalam hari seusai kau bekerja, sambil bercengkrama dengan kucing-kucingku. Hampir setiap malam kau melakukannya dan hampir setiap malam juga aku diam-diam memperhatikanmu dari balik jendela. Betapa aku merindukan saat-saat itu.
Disaat aku sakit tiga tahun lalu, kau juga menemaniku sebisamu. Semua makanan yang ingin kucoba, semua tempat yang ingin kusinggahi, semua kau turuti. Saat aku bekerja di malam hari dan mengeluh lapar, kau akan datang membawa tahu tek-tek favoritku. Atau mengajakku makan di chinese food kesukaanku yang ada di dekat kantorku saat itu.
Saat aku kerap menangis tiba-tiba ditengah malam, dengan sabar kau menenangkanku sembari mengusap punggungku. Saat aku balas membentakmu karena perdebatan yang kita lakukan, dengan sabar kau mendiamkanku dan mengajakku berbicara lagi seolah tidak ada yang terjadi. Kuakui rasa sabarmu begitu besar terhadapku yang keras kepalanya sama denganmu.
Kau yang tidak pernah sekalipun menunjukkan rasa cintamu melalui kata-kata, lebih sering mengungkapkan segala sesuatunya lewat tindakan tanpa harus mulutmu berbicara. Kau yang mungkin lebih banyak terdiam dengan segala keributan yang terjadi dikepalamu alih-alih mengungkapkan segala sesuatunya.
Sembari berderai air mata aku mengetikkan semua yang kuingat tentangmu di malam yang dingin ini. Malam dimana aku usai bekerja dan mampir ke cafe yang selalu kubagikan lokasinya denganmu kala itu. Dulu, setiap aku pulang subuh hari karena mengerjakan skripsi, kau dengan sabar kubangunkan melalui telepon hanya karena aku meminta untuk dijemput. Dan kau tidak pernah sekalipun marah karena tidurmu terganggu olehku.
Kini, aku hampir tidak pernah lagi membagikan apapun tentang hariku kepadamu. Kau juga begitu. Aku tidak lagi merayakan kemenangan-kemenangan kecilku padamu seperti yang sering kulakukan dulu. Mungkin aku sudah cukup kecewa terhadapmu sebab itu aku memilih menyimpannya untuk diriku sendiri. Dihari ulang tahunmu ini, hanya satu kalimat ucapan ulang tahun dengan doa singkat yang kukirimkan untukmu.
Aku berharap kau bisa menjaga dirimu dengan baik disana. Aku harap kau senantiasa sehat dan selalu kuat untuk melakukan segala sesuatunya, sesuai yang ada dalam pikiranku bahwa kau adalah pria dengan fisik yang kuat. Walaupun jauh dilubuk hatiku terdalam, ada sedikit harapan agar kita bisa kembali bersama menjadi utuh seperti sedia kala.
Sekian tulisanku yang kubuat
khusus dihari jadimu, terimakasih karena sudah mengupayakan menjadi yang
terbaik untuk diriku.
.png)
Komentar
Posting Komentar