Bagian Dua Puluh Satu: Perihal Rindu yang Enggan Kusampaikan


Terhitung dua bulan sudah sejak terakhir kali aku melihatmu, masih orang yang sama dalam tulisanku bagian ke dua puluh lalu. Lebih enam puluh hari membiasakan diri tanpa kehadiranmu, apakah aku mulai terbiasa? Jawabannya tidak dan aku sangat membenci itu. Fakta bahwa aku harus melalui semuanya sendirian membuatku cukup tersiksa disini. Setiap sudut kota yang pernah kita lewati, tempat makan yang pernah kita singgahi, cafe tempat kita bertemu sepulangku kerja, dan berbagai tempat lainnya yang kusambari seorang diri sambil bergumam, "Harusnya bisa kesini sama dia," terus berlalu-lalang dipikiran.

Apakah aku akan mengungkapkan semuanya padamu? Tentu tidak. Itulah sebabnya aku menuangkan semua kegundahanku dalam tulisan ini. Berharap kau tidak sebegitu peduli bahkan untuk meluangkan waktu membaca semua perasaanku yang tidak mungkin kusampaikan langsung padamu. Aku benci fakta bahwa aku begitu sayang padamu sementara kau terlihat tidak begitu peduli padaku. Aku tidak suka mengemis perhatian dan aku benci diabaikan. Sementara hal itu adalah hal berulang yang terus saja kau lakukan.

Susah payah diriku mengulang memori kebersamaan kita berdua, berharap aku tidak melupakan suaramu yang sangat aku suka itu. Terlebih tawa renyahmu yang kerap menghiasi perbincangan kita kala itu. Padahal kalau dipikir-pikir, mudah saja agar aku tidak lupa, teknologi sudah canggih aku bisa saja minta kau menelponku. Tapi apa itu pilihan yang akan aku lakukan? Tentu tidak.

Bukan hanya itu yang kubenci, aku juga membenci fakta bahwa kau kerap kali membuatku kebingungan atas perasaanmu terhadapku. Kau bilang sayang padaku tapi apa aku merasakan kasih sayang itu? Jawabannya juga tidak. Sementara aku mati-matian menunjukkan rasa kasih sayangku semata-mata agar kau tidak kehilangan rasa itu. Sakit? Sebuah hal yang kurasa tidak perlu kau tanyakan lagi.

Sembari menepis air mata yang perlahan bergulir, malam ini rasa benci dan rinduku berada pada puncaknya. Diperjalanan pulang, aku hanya bisa mengulang kembali memori karena aku baru saja menyinggahi tempat kita pertama bertemu. Melihat temanku berfoto persis di sofa dimana kita pertama duduk membuat pikiranku gaduh. Kau dengan kopi vanilla latte favoritmu dan aku dengan amerikanoku.

Aku juga bingung kenapa aku seperti ini. Seharusnya aku bukanlah wanita dengan tembok gengsi dan ego yang tinggi, tapi semenjak bertemu denganmu, beginilah aku. Mengucap rindu untuk aku yang anaknya gemar memberi afirmasi seharusnya bukan hal yang susah, tapi entah kenapa semuanya berubah begitu aku mengenalmu. Maafkan sikapku yang mungkin pasif-agresif terhadapmu, semata-mata kulakukan agar aku bisa melindungi diriku.

Aku tahu aku sudah merasa sakit, dan aku memilih untuk tidak menyakiti diriku lebih jauh lagi.

Entah hal itu merupakan keputusan dewasa yang tepat atau tidak, aku pun sudah tidak peduli lagi.

Terkadang aku berpikir apa gerangan yang membuatku sebegitu sayang, tapi aneh rasanya karena tidak pernah menemukan satupun alasan jelas. All I know is I just loved you with all my heart and sometimes it makes me feel stupid. Semakin aku mencari jawabannya semakin aku tidak menemukannya. Dan satu hal lagi yang kutahu, semakin kita berjarak, the lover girl inside me slowly dies. 

Or do I just love the way you make me feel?

I'm not even sure.

Perlahan, rasa kemelekatanku padamu mulai menghilang. Yang sebelumnya aku sangat anxious, pelan-pelan setelah membiasakan diri meregulasi emosi dan sistem syarafku, aku mulai biasa saja dan tidak lagi peduli. Kebanyakan rasa rinduku hanya angin lalu, kuabaikan walaupun di beberapa malam tertentu, aku tak kuasa dan menangis terutama ketika aku sedang berada di jalan sepulang kerja.

Hal seperti ini adalah hal yang sangat kubenci dan kuhindari namun merupakan bagian yang pasti dari jatuh cinta. Setelah bertahun-tahun memasang tembok setinggi mungkin, aku runtuh juga. Perasaaan lemah dan tidak berdaya ini membuatku hilang kendali atas diriku sendiri, aku tak lagi mampu mengontrol hal-hal yang seharusnya berada dibawah kuasaku sesuai dengan isi buku stoisisme yang akhir-akhir ini kubaca. Perasaan bahwa aku peduli pada hal yang seharusnya kuabaikan, pikiran-pikiran tak perlu dan tidak penting yang kerap kali singgah, pertanyaan apakah diriku layak dan sebagainya terus membayangi tiada henti.

Apa aku akan memberitahumu semua ini? Tentu tidak. Aku tidak ingin kau menjadi besar kepala dan berakhir menganggapku mudah. Aku sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa jika ada seorang laki-laki yang tahu dirinya begitu dicintai, dia akan bersikap semena-mena terhadap wanitanya. Fakta bahwa laki-laki hanya butuh rasa hormat, bukan rasa cinta selayaknya perempuan. Itulah kenapa lebih baik aku memendam semuanya seorang diri.

Pertanyaan-pertanyaan tidak perlu seperti,

"Kalau aku disini begini, dia disana gimana ya?"

"Kalau aku kangen, dia kangen juga gak ya?"

"Kalau aku mikirin, emang dia mikirin aku?"

Dan lain-lain kerap kali menghampiri. Tetapi langsung aku tepis karena bisa jadi kau tidak sebegitu peduli.

Walaupun kau memberiku jawaban yang kumau, tidak bisa juga mengubah fakta bahwa kita sangat sulit untuk membersamai satu sama lain dengan kondisi berjarak seperti ini. Ketika kau bertanya apa aku masih mau dan bersedia menunggu? Maaf karena jawaban yang bisa kuberi adalah tidak karena aku tidak mau menelan harapan kosong dan menunggu sesuatu yang tidak pasti. Bukan karena aku tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh, tapi karena aku merasa kau bukan orang yang tepat untuk menjalani hubungan seperti itu. 

Fakta lainnya juga adalah aku tidak bisa sepenuhnya percaya padamu, tidak seperti hubunganku sebelumnya dimana aku diyakinkan berkali-kali dan sebegitu diupayakan. Apa gunanya sebuah hubungan tanpa dilandasi rasa kepercayaan penuh? Sungguh merupakan suatu hal yang percuma bukan?

A trust has to be earned, not gifted.

Kedepannya, aku berharap bisa melupakanmu dengan perasaan tenang. Kuharap sudah tidak ada lagi perasaan cinta, saying, rindu, benci, memiliki terhadapmu yang cukup menganggu hari-hariku. Kuharap aku mampu melepaskan dan merelakanmu seperti seharusnya. Kalau hidupku baik-baik saja sebelum kehadiranmu, seharusnya hidupku juga akan sama baiknya setelah kepergianmu.

Kalau kata Bernadya, dunia masih akan terus berputar. Hidup akan terus berjalan. Perihal rasa rindu ini, biarlah aku telan sendiri. Toh juga lama kelamaan akan terbiasa dan menghilang seperti yang sudah-sudah.

Aku juga ingin berterimakasih pada diriku sendiri karena telah mengizinkan diriku untuk merasa jatuh cinta lagi. Walaupun tidak setiap hari berbunga dan indah seperti di film-film romcom yang gemar sekali kutonton itu, tapi setidaknya aku memberi kesempatan diriku untuk merasa vulnerable lagi.

Dan juga melihat diriku yang ‘mekar’ layaknya bunga karena jatuh cinta lucu juga. Walau mungkin sekarang harus berada di fase layu dan mencari taman baru yang bersedia merawatku agar ‘mekar’ lebih lama lagi. Entah taman yang dimaksud adalah taman yang kubuat sendiri atau taman milik orang lain, aku tidak masalah.

Menuangkan segala yang kurasakan dalam tulisan ini membuatku lega, jujur lebih meringankan ketimbang aku harus bercerita dengan orang lain. Disini aku merasa lebih bebas dan jujur terhadap diriku sendiri, dan aku suka itu. Tidak ada spekulasi, tidak ada respon, tidak ada opini, yang kutuangkan murni hanya isi pikiranku sendiri.

Again, thankyou for reading this.

Hope you have a great day!

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian Dua Puluh: Perihal Hati yang Memilih Jatuh Lagi

Intro: Tak Baca Maka Tak Sayang

Bagian Sebelas: Ucapan Terimakasih pada Diriku