Aku ingat betul, dahulu sekitar lima sampai enam tahun yang lalu salah satu temanku pernah berkisah bahwa ia sedang menjalin hubungan dengan orang yang tidak seharusnya. Bisa dibilang hubungan terlarang, namun aku tidak akan berterus-terang menyebutkan detailnya. Kala itu, aku selalu mendengarkan ceritanya dengan seksama walaupun dalam hati, aku menolak dengan keras. Pikirku ya hidupnya adalah pilihannya, sekalipun saat itu bertentangan dengan idealisme penuh kenaifan yang waktu itu kupegang.
Makin kesini, aku makin muak. Aku kian terang-terangan menentang hubungan mereka bahkan sampai membuat video cerita Instagram sedang “ngobrol” seperti yang dulu aku sering lakukan. Aku berkata panjang lebar tentang bagaimana hubungan tersebut sangatlah tidak berlandaskan hati nurani. Bagaimana mungkin kau menjalin hubungan sementara orang lain harus terluka, dan sebagainya.
Tanpa mengetahui satu fakta pasti bahwa segala suatu hal yang kau hakimi berlebihan, sedang menunggu giliran untuk terjadi padamu juga. Begitulah cara Semesta bekerja. Seperti pepatah bahasa inggris “Let me give you the taste of your own medicine.”
Salah satu pelajaran hidup singkat yang berharga yang kualami di fase pendewasaanku tahun ini.
Saat itu, Semesta sudah berbaik hati memberi ‘petunjuk’ bagaimana cerita ini akan bermula. Tanpa perlu repot-repot aku susah payah mencari sendiri, lelaki ini malah mengakui duluan sebelum berlanjut lebih jauh. Karena aku belum ‘ngeh’ dan sudah kepalang mati rasa sejak putus cinta kurang dari tiga bulan lalu, aku dengan kesadaran penuh mengiyakan segala bualan dan bujuk rayunya.
Pria ini, seperti kebanyakan pria-pria lainnya yang ‘panas panas tahi ayam’ diawal karena sedang diberi sensasi baru, sungguh-sungguh mempermudah hidupku dalam banyak hal dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Dia memberiku apa yang kubutuh bermodal sedikit rayuan. Menyelesaikan masalah yang dengan sengaja kuhadapkan padanya. Memberiku segala usaha dan waktunya.
Jauh di dalam hatiku, tentu tahu sekali bahwa yang kulakukan ini salah besar. Aku sedang bermain api. Secara sengaja dengan sukarela menyumbangkan diriku untuk hangus terbakar menjadi serpihan debu. Aku tahu segala konsekuensi yang bisa saja terjadi. Semua kemungkinan bermain di kepala tiada henti.
Yang kulakukan? Aku mengabaikannya.
Hatiku juga berbisik pelan, “Jadi ini yang dirasakan temanku dulu?”
Dan tidak munafik, aku menikmatinya.
Selang berapa hari, mungkin menurut Semesta waktu bermain-mainku dengan orang ini sudah habis atau apa, tibalah satu kejadian yang benar-benar membuatku marah besar dengannya. Entah nyali darimana, ketika aku sedang me-time ngegym seorang diri, dia malah menyambangiku secara tiba-tiba tanpa memberitahu lebih dulu.
Ketika aku sedang menuntaskan bicep curl sebagai finishing di hari itu, aku tahu firasatku benar bahwa dia sudah berada di depan ketika ponselku berdering bertuliskan namanya. Menghela napas, suka tidak suka aku harus mendatanginya.
Aku tidak mengerti apa yang ada dipikiran lelaki yang suka datang tanpa diundang seperti ini. Datang tanpa dijemput, pulang tidak diantar. Terinspirasi dari Jelangkung kah? Maunya apa, sih?
Dipikir romantis kah tiba-tiba datang begitu?
Aku marah besar. Bete sekali. Terlihat nyata dari raut wajahku seolah ada tulisan yang jelas menempel di jidat. Bahkan saat ia pulang pun, marahku tidak hilang.
Terjadi di orang lain yang tiba-tiba didatangi pacarnya saja aku marah, lah ini malah kejadian ke diri sendiri. Bisa terbayang belum?
Dia tidak menyangka bahwa aku yang selama ini terlihat manis didepannya bisa semarah itu. Sejak kejadian malam itu, ia menjaga jarak. Tiba-tiba berubah. Thank God, I don’t need to waste more of my time with him. Aku bersyukur sekali walaupun sempat terbesit rasa sedih, namun disatu sisi juga sangat lega karena aku tidak merugi suatu apapun karena hubungannya belum terlalu jauh.
I promise I already learned my lesson one time until Universe decided to sent me another one again like him.
Not once, but twice.
Bedanya, we’re starting off as friends.
No nicknames.
No flirting.
Bahkan tidak bisa kukatakan teman. Benar-benar hanya orang asing yang beberapa kali basa-basi.
Singkatnya, aku ikut dengannya dan teman-temannya bermain bulutangkis. Tepak-tepok bola bulu sambil ketawa-ketiwi. Ada yang kepo bertanya siapakah gadis asing berbaju putih yang tiba-tiba ikut ini, aku hanya diam karena malas menjawab.
Basa-basi lagi sekian hari, kemudian menghilang sekitar satu bulan sampai menghubungiku lagi, mengajakku menghampiri tempat nongkrong favoritnya dan ulangi. Sampai aku menemukan sendiri alasan bahwa aku sedang mengulang pola yang sama. Bermain api lagi walaupun dengan intensitas yang berbeda.
Dan lucunya, kedua lelaki sialan ini juga berakhir dengan motif yang sama. Oh darling I love to play a game and won’t fall for the players. Kurasa Semesta sedang menguji batasanku kali ini. Apakah aku akan jatuh kejerat permainan yang sama atau tidak.
I actually don’t give a fuck.
I already learned my lesson.
Dan aku sudah menjilat ludahku sendiri.
Itu sudah lebih dari cukup.
Komentar
Posting Komentar