Bagian Dua Puluh: Perihal Hati yang Memilih Jatuh Lagi


 

Wah, udah setahun lebih gak update ini blog. Baru sadar kalau tahun 2025 kemarin benar-benar gak ada nulis sama sekali saking stagnannya hidup (gitu-gitu aja, minim inspirasi). Dan benar-benar gak nyadar juga di awal tahun ini darderdor sekali, alias gebrakannya tuh ada banget. Hahaha.

            Jadi, setelah hubunganku yang terakhir sekitar empat tahun lalu, di tahun ini aku melepaskan predikat single era yang sudah nyaman sekali melekat denganku selama hampir empat tahun. Iya, aku benar-benar tidak ada sama sekali menjalani hubungan apapun dengan siapapun selama itu. Kalau kata orang sih, single by choice ya. Dan mungkin aku kelewat nyaman dengan status sendiriku itu.

            Bukan berarti aku tidak menghargai siapapun yang menemaniku pada saat itu, hanya saja berfokus pada penyembuhan diri sendiri tidak terdengar terlalu buruk. Bukan juga tidak pernah mencoba membuka hati sama sekali, pernah.. beberapa kali malah. Tapi ada aja gitu yang bikin gak jadi. Entah akunya lah yang setengah-setengah, entah dianya lah yang gak mau-mau banget, kan jadinya ogah ya? Serba salah juga.

            Dan entah kenapa, pada satu malam minggu ketika aku masih bekerja, tangan ini iseng banget ngechat cowok duluan. I just randomly shoot my shot, pikirku malam itu. Gak tau kenapa juga, rasa-rasanya malam itu butuh aja teman chat, gak lebih dari itu. Totally zero expectation at first. Kirain bakal meng-asing seperti yang sudah-sudah.

            Ditambah dari awal dia pun sudah menegaskan ingin berpindah kota pertengahan bulan depan. Makin kecil lah ekspektasiku karena kupikir toh juga bakal ditinggal dan asing kan? Mau berharap apa? Sampai akhirnya dua hari setelah berkomunikasi yang gak intens-intens amat itu, kita sepakat untuk memilih bertemu.

            Setelah memilih satu dari tiga kandidat baju yang hendak kugunakan pada malam itu (iya, aku benar-benar kesusahan memilih baju bahkan untuk sekedar first date). Pilihanku jatuh pada satu dress berwarna pink keunguan yang baru kubeli sekitar dua bulan lalu. Jujur, ini memang bukan first date yang gimana banget karena bukan yang pertama kali juga. Tapi entah kenapa deg-degannya ada banget? Bingung juga kenapa.

            Pilihan kami jatuh pada salah satu café yang ada ditempat kerjanya dia. Berhubung malam itu dia juga harus bekerja shift malam, jadi sekalian saja. Saat aku datang malam itu, dia sudah duduk manis di meja. Perkenalan kami mengalir begitu saja. First thought meeting him was, he is a great person to talk to. Entah memang orangnya begitu ke semua orang, or is it too much to called it chemistry?

            Tetap berpegang teguh dengan ekspektasi yang dari awal nol, aku tidak berani menaruh harapan lebih. I was having a great time with him, but I was just afraid. Tetapi tidak dengan dia. Dengan ketengilannya (yang anehnya aku suka itu), dia justru bertanya apakah dia lolos menjadi kriteria pasanganku melalui pesan teks. Obrolan kami setelah bertemu itu berlangsung sampai tengah malam. Dan tebak apa? Besoknya kami bertemu lagi.

            Yah memang akunya sih yang kode-kode duluan pura-pura mau makan soto ayam sepulang kerja seorang diri, padahal nyatanya, dalam sebulan bisa dihitung jari berapa kali aku makan malam. Dan umpan pun bersambut, dia minta ikut! Hahaha kena kau kan. Kami makan bersama dan ngobrol banyak malam itu, dengan kondisi hatiku yang pelan-pelan mulai kepincut dengan pesonanya.

            Pertemuan ketiga pun terjadi keesokan harinya lagi. Iya, kali ini tiga hari berturut-turut kami bertemu. Kami mulai menunjukkan ketertarikan satu sama lain, dengan diriku yang pelan-pelan meruntuhkan benteng hati yang hancur berkali-kali untuk kesekian kali. Biarin ngalir aja dulu, pikirku saat itu. Disinilah pelan-pelan sisi clingy ku mulai terlihat. Bawaannya pengen nempel, pengen dekat-dekat terus. Hati pun enggan berbohong, ada perasaan selayaknya bunga yang bermekaran, alias jatuh cinta. Hahaha.

Mampus kau Ismi, ejek hatiku yang akhirnya mengakui kekalahannya.

Pertemuan keempat, kelima, sampai kedelapan pun berlangsung cepat di minggu kedua. Gila kan? Aku juga sama kok kagetnya. Mungkin karena love language yang kebetulan sama, kami sepakat untuk terus-terusan bertemu. Kalau ditanya apa ada rasa bosan? Jawaban dari aku sih tidak sama sekali. Dan ujungnya sampai dipertemuan kedelapan kami memilih sepakat untuk menjadi sepasang kekasih.

Kalau boleh jujur, aku menyimpan kekaguman pada dirinya. Belum pernah aku jatuh cinta pada lelaki hebat seperti dia. Pekerja keras, berkemauan kuat, tegas, dan dimataku dia manly banget aja. Mungkin karena profesinya yang seorang engineer juga. Diumur yang semuda itu melihat dia yang sudah berproses sejauh dan sedalam itu dibidang yang ia tekuni, jujur itu nilai plus yang aku tahu dia juga bangga dengan dirinya sendiri.

Apakah hanya itu yang kukagumi dari dirinya? Tentu tidak. Bagaimana dia memperlakukanku, cara dia membual dengan jokes tengilnya, hal-hal random tentang dirinya, kebiasaan kecil yang mungkin dia pikir aku gak sadar tapi diam-diam kuperhatikan. Setiap kami bersama, selalu ada saja hal yang membuatku semakin jatuh hati padanya.

Lalu apa hubungan kami berjalan mulus? Selayaknya hubungan orang lain yang pada awalnya mengalami masa honeymoon phase, selalu mulus pada awalnya. Guncangan baru terasa sejak jarak memisah diriku dengannya. Dari awal memang aku tahu kalau dia tipikal yang lumayan kerasa cueknya lewat chat, tapi aku tidak tahu ketika sudah berjarak entah kenapa aku semakin merasa kehilangan kehadirannya.

Long distance is not for the weak, they said.

Memang. Sepengalamanku juga LDR seharusnya tidak sesusah itu. Tapi mungkin karena satu dua dan lain hal, miskomunikasi kami jadi banyak sekali. Apakah aku sakit hati? Tentu. Tapi apa aku siap menghadapi semua ini? Jawabannya tidak.

Dan setelah lebih dari satu minggu no contact, apa aku merindukannya?

Iya.

Aku sangat sangat merindukannya. Lebih dari apapun.

I’m afraid that it’s just my anxious attachment speaking, but am I losing my mind?

Almost.

Kalau kamu baca ini. Iya ini tulisan tentang kamu. Orang yang sangat kusayangi saat ini. Orang yang sudah aku beranikan diri untuk menaruh hati dan harapan lagi. Kalau ditanya apa aku hanya mencintainya dengan berpegang pada kebaikan ataupun hal-hal manis yang telah kita lalui saja? Jawabannya tidak. Aku tetap mencintaimu bahkan ketika hal-hal rumit yang bahkan pikiranku pun sulit untuk mengerti.

Aku tetap memilih mencintaimu bahkan ketika aku tidak tahu menahu apa yang sebenarnya kamu rasakan padaku. Ketika dibanyak waktu kamu memilih untuk diam dan bersikap abai.

Apa aku menyesali pilihanku?

Logically thinking, aku seharusnya menyesal pernah bertemu denganmu. Tapi aku tidak menyesali apapun yang kita lalui bersama. Setiap pagi bahkan terkadang ditengah malam aku terbangun dan pikiranku hanya tertuju padamu. Apa aku berani mengungkapkan langsung padamu? Sayang nyaliku yang ciut ini tidak sebesar itu.

Aku disini benar-benar rindu. Semua hal mengingatkanku padamu di kota ini dan itu menyiksa. Aku merindukan saat-saat dimana kamu mulai random menyanyi, apalagi kalau sudah menyanyikan lagu girlband favoritmu si TWICE itu lengkap dengan koreografinya yang sudah kamu hapal diluar kepala. Atau lagu Creep dari Radiohead yang merupakan salah satu lagu favoritmu.

Maaf mungkin aku terlalu pengecut karena tidak berani berkata langsung padamu dan memilih melanjutkan tulisan ini disini. Maaf kalau mungkin selama kita bersama, aku hanya menambah beban pikiranmu atau menganggu hari-harimu yang sudah berat. Maaf juga karena sudah memilih keputusan bodoh karena emosi sesaat. Maaf karena aku seharusnya bisa berjuang dan bertahan lebih jauh hari itu. Maaf karena aku sudah kalah dengan pikiranku sendiri.

I love you. I really do and I will always do.

Kucukupkan tulisanku di malam hari ini, dilembar keempat dengan total seribu lebih dua ratus sekian kata. Saatnya aku mengusap air mata dan kembali tertidur dengan perasaan rindu yang entah kapan akan tersampaikan. Mungkin seiring berjalannya waktu aku akan terbiasa, tapi entahlah? It’s just get worse every single day.

Goodnight, and thankyou for anyone reading this. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian Dua Puluh Satu: Perihal Rindu yang Enggan Kusampaikan

Intro: Tak Baca Maka Tak Sayang