Malam ini seusai aku pulang bekerja, seperti biasa aku bersenandung ria dengan beragam jenis playlist Spotifyku yang siap menemani setiap perjalanan. Kebetulan, satu lagu dari penyanyi kondang Bunga Citra Lestari dan Diskoria berjudul Badai T’lah Berlalu tengah diputar, aku pun bernyanyi riang dengan sukacita sambil mengendarai motor seolah-olah diriku adalah BCL yang sedang bernyanyi di atas panggung.
Sambil diperjalanan pulang, aku terpikir untuk menuliskan kisah ‘life recently’ yang marak kulihat seliweran sebagai caption di Tiktok dan juga Instagram. Bedanya alih-alih menampilkan foto belasan slide, aku memilih untuk menuliskannya disini dan membiarkan siapapun yang membaca ini membayangkan kehidupan yang akhir-akhir ini sedang aku jalani. Semoga tidak keberatan ya?
Aku akan mulai dari beberapa bulan terakhir bisa dibilang aku sangat bahagia menjalani pekerjaanku. Aku tidak berbicara mengenai tuntutan pekerjaanku yang tidak juga terlalu mudah namun yang membahagiakan justru lingkungan kerja yang saat ini kumiliki. Hampir setiap hari, selalu ada saja gebrakan-gebrakan yang terjadi sehingga aku tak kuasa menahan tawaku.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak merasa terbebani ketika berangkat bekerja. Ada saja alasan untuk tertawa setiap harinya hanya karena kejadian-kejadian remeh yang terjadi di toko. Selelah apapun, terutama ketika harus briefing seusai kerja pada malam hari, selalu ada lelucon dan senda gurau yang terlontar yang membuat rasa lelahku meluap seketika.
Hal remeh lain yang menurutku membahagiakan adalah ketika saat break tiba. Terkadang aku dengan temanku saling bertukar cerita dengan bersemangat. Kau pasti mengerti betapa menggembirakannya jika bercerita dengan orang yang sama riangnya denganmu. Bertukar energi dengan orang yang satu frekuensi itu cukup membahagiakan buatku. Terkadang juga aku menghabiskan waktu break seorang diri dengan segelas Americano tanpa gula dan aku sudah bisa cukup bahagia karena mempunyai sedikit waktu untuk kuhabiskan dengan diriku sendiri.
Aku juga ingin sekalian berterimakasih dengan salah satu temanku yang setiap malam jika satu shift bersama dengan sukarela memboncengku ke parkiran agar aku tidak berjalan kaki terlalu jauh. Bahkan sebelum aku bertanya, ia dengan rajin menawarkan diri “Ismi, kamu mau ikut aku lagi malam ini?” Benar-benar salah satu princess treatment yang kudapatkan ketika aku tidak terlalu berekspektasi lebih dengan kehidupan. Terimakasih juga kuucapkan pada sepupu-sepupumu yang memujiku cantik malam itu ketika kau sedang video call sembari memboncengku. It really made my day.
Sejak kepindahan rumahku beberapa bulan yang lalu, aku justru jadi lebih bahagia karena hampir setiap pagi dan malam melintasi penjuru Tepian. Sejak aku SMP, berputar-putar pada malam hari dari kawasan Pasar Pagi sampai daerah Bigmall merupakan hobiku. Eh sekarang malah dapat rezeki untuk pindah rumah yang mengharuskanku lewat Tepian setiap hari. Semakin bahagia lah aku.
Naik motor seorang diri sejak lama dan berputar-putar sesuka hati merupakan pengalaman yang sulit kujelaskan dengan kata-kata. Mungkin untuk sebagian orang, hal itu baru menjadi romantis ketika dilakukan dengan kekasih hati. Namun tidak bagiku yang sangat terbiasa dengan kesendirian ini. Aku justru bisa meromantisasi perjalanan pulang pergiku yang bagi sebagian orang mungkin sekedar rutinitas biasa. Aku bisa bernyanyi dan berjoget ria di atas Upy–motor kesayanganku itu tanpa peduli akan pemikiran orang lain.
Oh iya, ini sudah memasuki bulan kedua aku mulai rutin datang ke gym. Dengan jiwa extrovertku ini, aku tidak terlalu susah untuk membaur dan beradaptasi di tempat gym yang baru. Sudah cukup banyak orang di gym tersebut yang kuajak dan juga mengajakku ngobrol. Sesederhana melihatku melahap salad sayur pun bisa menjadi bahan obrolan. Apa sebaiknya salad sayur itu kujadikan ladang cuan? Hahaha bercanda. Tapi idenya bohel juga.
Ada juga satu laki-laki yang mengikutiku dari Instagram. Kebetulan ketika aku sedang gym dan mengunggah fotonya di cerita Instagram, terkadang aku suka iseng-iseng menandai Instagram gymku itu agar di repost. Aku tebak dia menemukan akunku dari sana. Dan kebetulan juga saat itu aku sedang latihan malam hari sepulang kerja dan dia melihatku.
Dia menyapa, mengajakku berkenalan dan sedikit berbasa-basi join Lat Pulldown yang sedang aku mainkan. Beberapa gerakanku juga sempat dikoreksi olehnya. Sampai ketika sesi latihanku selesai, dia mengajakku mendatangi Cafe terdekat untuk mengobrol lebih jauh. Pikirku kenapa aku harus menolak ajakannya malam itu? Toh tidak ada salahnya juga untuk menambah teman bukan?
Aku tidak akan membahas bagaimana perbincangan kami pada malam itu tapi aku bisa merasakan ‘sedikit’ bibit-bibit red flag tersirat walaupun sangat-sangat subtle. Terimakasih kepada pengalaman yang membuatku mampu mendeteksinya hanya dalam pertemuan pertama. Pada intinya instingku malam itu berkata bahwa aku jangan sampai terlalu dekat dengan laki-laki ini (semoga dia tidak membaca ini kalaupun dia membaca semoga tidak tersinggung).
Sure I had a great time with him, but no I won’t do this any further.
Sampai hari ini kami masih saling mengikuti di Instagram, terkadang juga ia membalas cerita Whatsappku jika berkaitan dengan gym. No big deal for me.
Ada juga satu laki-laki yang beberapa kali papasan denganku di gym. Malam itu, aku bertanya apakah dia sedang menggunakan smith machine yang sedang nganggur. Dia bilang masih mau pakai dua set lagi. Selang berapa detik, tiba-tiba saja ia bertanya “Kamu orang apasih aslinya?” Sedikit kaget, aku lantas menjawab singkat “Banjar, kenapa?” dan jawaban darinya membuatku tercengang.
“Aku kira kamu orang Buton,” dia bilang. Kutanya mengapa bisa? Dia jawab karena bentuk mataku seperti orang Buton.
Little did he know, yang ternyata orang Buton adalah mantan kekasihku. Hahaha. I wanna scream to his face so bad about it but nevermind.
Anyway, the amount of things that changes around me the second started to romanticize my life again are HUGE.
Beneran. Gak bercanda sama sekali.
Rasanya hidupku akhir-akhir ini lebih mudah. Lebih ringan untuk dijalani. Lebih effortless. Mungkin karena pola pikir yang berubah bahwa aku sudah tidak lagi berada dalam survival mode. Aku merasa bahwa semesta sangat sayang padaku ketika aku sebegitu sayang dengan diriku sendiri. Dan itu terpancar dari kemudahan hidupku dan kasih sayang yang kudapat dari orang-orang disekitarku. Bahkan, hal sederhana seperti bertemu kucing yang betah kuelus saja mampu membuatku berpikir “Bahkan kucing aja tau loh kalo aku orangnya penyayang.” Haha.
Tidak ada lagi pertanyaan yang terlontar seputar aku kurangnya apa dan dimana. Tidak ada lagi perasaan bahwa aku butuh validasi orang tertentu agar bisa menjalani hari. Hanya berfokus dengan diri sendiri ternyata pilihan yang tidak buruk juga. Aku tidak lagi harus menunggu untuk jatuh cinta agar bisa menikmati lagu-lagu orang yang sedang jatuh cinta.
Seperti sekarang ketika aku menulis bait ini, aku sedang bersenandung ria dengan lagu Aku Takdirmu yang super centil milik Marion Jola. Kugumamkan dengan penuh perasaan dan cinta setiap lirik yang Marion nyanyikan. Ternyata bisa loh aku merasakan jatuh cinta tanpa perlu ada kehadiran orangnya.
Damai yang kini kurasakan agak sulit untuk dirangkai dalam kata. Bahkan jika aku harus menukar kedamaian ini dengan status sendiri untuk waktu yang cukup lama, bisa dibilang aku rela. Jauh lebih baik pilihanku untuk tetap sendiri ketimbang balik menjalani hubungan yang membuatku terjebak dalam survival mode atau berakhir mempertanyakan kelayakan diriku sendiri lagi.
Everything comes with a cost. Dan rasa sepi adalah harga yang harus kubayar untuk kesendirianku ini. Ya walaupun tidak benar-benar sepi juga sih sebenarnya (iykyk). Tapi jujur aku tidak menemukan seseorang yang bisa kubagikan rasa kedalaman emosional yang kumiliki. Dan hal itu cukup membuatku sedikit frustasi.
Disisi lain, dengan fase diriku saat ini yang sedang kujalani, aku jadi sedikit lebih flirty ketimbang diriku di tahun-tahun sebelumnya. Aku menikmati saat-saat aku bisa mengekspresikan sisi flirty tersebut secara gamblang. Bonus jika targetnya juga mampu mengimbangi tiap godaan yang kulontarkan. Aku tidak tahu apakah ini faktor umur yang semakin dewasa membuat diriku menjadi lebih bold, atau memang diriku dahulu terlalu gengsi untuk berani mengeksplorasi sisi diriku yang ini.
Salah satu hal gila yang aku ingat kulakukan terakhir kali adalah saat aku pergi ke Tenggarong dengan sahabatku sekitar satu bulan lalu. Sewaktu kami pulang, hujan turun dengan derasnya. Saat sampai di Jalan Suryanata aku ingat persis di dekat lampu merah, aku iseng kiss bye satu laki-laki yang saat itu sedang menemani temannya berjualan martabak. Aku tertawa ngakak begitu melihatnya tiba-tiba salting tapi disaat yang sama aku juga tidak bisa memproses kenapa aku ngikutin kata otakku banget.
Aku langsung menceritakan kejadian tersebut pada sahabatku dan dia juga tertawa ngakak. Selama beberapa menit kami tertawa kencang disepanjang jalan karena yang ada di otakku hanyalah wajah lucu Mas-mas tadi yang lagi salting. Maafkan aku ya, Mas. Percayalah aku juga sama bingungnya kok.
Dan tidak bisa munafik, aku juga rindu saat melihat diriku sedang jatuh cinta. Something about me shines, bahkan teman-teman kerjaku mampu merasakannya. When I fall in love, it radiates. Tiba-tiba saja semua lagu cinta yang kudengar ada subjeknya. Terkadang juga bibir bisa tiba-tiba saja tersenyum mengingat si dia. Cielah puitis amat yak?
Mungkin jika aku jatuh cinta lagi dalam waktu dekat atau kapan pun itu, aku akan menuliskannya lagi disini. Entah bagaimana jalan cerita maupun plot twist nya nanti, aku harap perasaan itu akan datang dikala aku benar-benar siap. Bukan lagi berujung dengan perpisahan dan sakit hati seperti yang sudah-sudah. Doain aku terus ya? Hahaha.
Kucukupkan tulisan ini sampai disini, terimakasih sudah berkenan membaca!

Komentar
Posting Komentar