Bagian Dua Puluh Empat: Balikpapan, Konser, dan Dua Princess yang Kelelahan

Akhir bulan Mei kemarin tepatnya tanggal 30, aku pergi ke Balikpapan untuk menonton konser Riber Fest. Aku tidak datang seorang diri, melainkan bersama Lily–sahabatku dari SD. Awalnya aku berencana untuk pergi kesana seorang diri dari Samarinda, tetapi begitu aku iseng bertanya kepada Lily, dia bilang dia mau ikut berangkat denganku.
Persiapan kami bisa dibilang serba dadakan. Mulai dari pencarian tempat menginap, cafe mana yang hendak kami kunjungi, sampai sewa kendaraan dan sebagainya. Akhirnya setelah melakukan pencarian singkat, aku bisa merampungkan semua itenerary dengan segudang plan B lainnya yang sudah kususun dalam otakku walaupun ini hanya perjalanan satu hari.
Pagi dimulai dengan aku yang terbangun di jam setengah 6. Setelah memaksakan diri untuk bangun dan mandi aku pun bersiap memastikan barang-barang bawaanku kembali dan tidak lupa mengirim pesan pada Lily yang ternyata masih terlelap dan meminta keberangkatan diundur satu jam karena dia yang kelewat mengantuk.
Kami bertemu di tempat Bis yang seringkali mangkal di dekat Bigmall. Dia datang dengan pacarnya yang kebetulan hari itu hendak pergi keluar kota juga. Aku lalu bercerita tentang driver ojek daringku yang sepanjang perjalanan terus mengajakku mengobrol dan berakhir meminta username instagramku begitu sampai. Setelah menghabiskan gorengan pisang yang sudah kubeli untuk mengisi perut, aku menidurkan diri sepanjang perjalanan untuk sejenak mengisi tenaga.
Sesampainya di Balikpapan, kami berdua langsung mengambil motor yang sudah kusewa. Walaupun ada sedikit drama karena aku tidak bisa memakai motor scoopy yang kuncinya berbentuk remot. Setelah diajarkan sedikit oleh orangnya, bermodalkan bismillah dan sedikit nekat aku pun memberanikan diri membawa motor tersebut.
Kami berdua menyusuri kota Balikpapan dalam keadaan yang benar-benar buta map. Tidak ada dari kami yang hapal jalanan kota Balikpapan, semua kami pasrahkan pada Google maps yang selalu siaga ditangan Lily. Rasanya menyusuri kota yang tidak kita hapal jalanannya itu sungguh tidak bisa dijelaskan. Menurutku ada rasa puas dan juga kagum begitu melihat tata kota yang terasa asing. Bayangkan saja dua anak kecil yang berteman sejak SD ini harus menjelajah kota yang tidak pernah terpikirkan sama sekali sewaktu kami kecil.
Untungnya, letak guesthouse kami tidak terlalu jauh, hanya berkisar 10 menit perjalanan dari Terminal. Walaupun benar adanya ulasan yang orang bilang di Google map bahwa lokasinya sedikit hidden gem, tapi tidak masalah karena kamarnya cukup untuk kami berdua dan tidak ada masalah berarti.
Seusai melakukan early check in, kami berganti baju dan langsung bersiap menuju coffee shop yang sudah Lily rekomendasikan. Maguna Coffee namanya. Tempatnya tidak terlalu besar tapi sangatlah nyaman, ditambah kehadiran dua ekor kucing british shorthair yang siap siaga di depan pintu. Aku juga sempat merekam kucing lucu itu yang kemudian kuunggah di instagram. Nuansa tempatnya lumayan homey dengan sofa yang sangat nyaman. Setelah puas berfoto, kami pun menunggu makanan sembari bertukar cerita. Mendengarkan cerita Lily yang menurutku selalu ada saja gebrakan barunya memang tidak pernah sekalipun membuatku bosan.
Untungnya, jarak dari penginapan, Maguna, dan Dome BSCC Balikpapan tidak terlalu jauh. Bisa dibilang semuanya masih satu daerah jadi memangkas waktu kami jikalau kami tiba-tiba nyasar ditengah jalan (untungnya tidak terjadi). Begitu waktu hendak menunjuk ke arah jam 2, kami pun bergegas pergi dari Maguna karena Lily bilang, kalau nonton konser itu harus stand by dari satu jam sebelum open gate dimulai.
Saat kami datang, kulihat sudah ada beberapa orang yang berduduk di atas trotoar menunggu gate dibuka. Aku dan Lily duduk sebentar sampai ada beberapa perempuan yang tiba-tiba saja mengantri di depan gate. Berbagai macam hal yang aku obrolkan (baca: gibahin) dengan Lily. Yang paling gong adalah Mbak-mbak yang beli kacang rebus satu kresek dan langsung dihabiskan saat itu juga. Ada juga yang membawa tentengan satu plastik berisi gacoan tiga kotak. Gokil sih ini, pikirku saat itu.
Kami juga sempat mendengarkan Uan Juicy Luicy yang sedang sound check. Beberapa perempuan ada yang sudah histeris bahkan bercanda mengenai kasus Uan yang sempat ramai di Twitter. Aku? No komen deh. Cukup dengarkan lagu-lagunya saja dan abaikan orangnya kan?
Setelah menunggu dan berbaris cukup lama, aku dan Lily akhirnya masuk dan segera berlari agar dapat barisan pas di depan panggung. “Pokoknya harus di depan brikade!!” Ujar Lily menegaskanku berkali-kali.
Konser dibuka dengan beberapa penampilan dari band-band lokal. Tidak satu lagu pun yang aku tahu kecuali satu lagu dari Teman Tapi Mesra dari Ratu. Aku dan Lily menyanyikan lagu itu dengan sangat girang, mengetahui fakta bahwa lagu ini terasa cukup relate untuk kami berdua. Hahaha.
Tidak terasa petang pun berlalu dan saatnya Guest Star yang tampil. Dimulai dari Maliq & The Essentials, Band legend favoritku yang merupakan salah satu alasan aku pergi ke konser ini. Aku sangat menyukai lagu-lagu mereka yang seakan membuatku merasa seperti aku sedang jatuh cinta. Nuansa lagu yang jazz, soul dan juga sedikit r&b sangat kawin ditelingaku. Maka dari itu mendengarkan mereka langsung di depanku merupakan pengalaman yang sangat berkesan. Lagu-lagu kesukaanku dimainkan, mulai dari Pilihanku, Dia, Senja Teduh Pelita, Untitled dan banyak lagi.
Oh, izinkan aku, memilikimu
Mengasihimu, menjagamu
Menyayangimu, memberi cinta
Memberi semua yang engkau inginkan
Selama aku mampu, aku akan berusaha
Mewujudkan semua impian dan harapan
'Tuk menjadi kenyataan
Adalah salah satu bait favoritku dalam lagu Pilihanku dari Maliq & The Essentials.
Aku bahkan berangan-angan menonton Maliq & The Essentials bersama kekasihku kelak yang selera lagunya mirip denganku. Hahaha when ya?
It must be really fun, memorable, and romantic to sing along their song at the concert or gigs together.
Berikutnya adalah penampilan dari Rony Parulian. Jujur, awalnya aku sempat skeptis dengan penyanyi satu ini. Selain karena iklan Spotify-nya yang menyebalkan, lagu-lagunya memang tidak pernah ada dalam deretan playlist ku. Tapi siapa sangka justru penampilan Rony yang membuatku terkagum-kagum di malam itu?
Mahadahsyat Rony Parulian, gumamku dalam hati berkali-kali.
Bagaimana tidak, disuguhkan dengan lelaki muda berkulit bening, berbibir merah, rambut acak-acakan lengkap dengan suaranya yang serak-serak basah? Kombinasi maut yang mematikan.
Mulai dari lagu Pesona Sederhana, Tak Ada Yang Sepertimu, Tak Ada Ujungnya, Dengarlah Cinta, Angin Rindu, Satu Alasan lengkap sudah berjejer rapi dalam susunan playlist ku. Sampai-sampai aku tidak banyak merekam performance nya karena sibuk terbius suara dan rupa tampan penyanyi kelahiran tahun 2001 itu.
That was beyond my expectation. Really.
Oh jangan tanya keadaan wanita-wanita baris terdepan yang menonton disampingku. Hampir semua dari mereka berteriak histeris termasuk Lily yang mengucap Masya Allah berkali-kali. Beneran seganteng itu!
Selepas penampilan Rony yang sukses membuatku terpukau, giliran Uan Kaisar dan kawan-kawannya alias Juicy Luicy yang tampil. Jujur ini kali ketiga sudah aku menonton mereka. Bahkan tiga tahun lalu insta story ku sempat dibuka dan diberi love oleh Uan. Hahaha. Malam ini juga demikian. Ketika aku mengunggah foto Uan dengan ponselku yang tidak seberapa itu, lengkap dengan lagu Terlalu Tinggi, eh malah dibuka sama dia bahkan sampai di repost. Jujur agak kaget sih. tapi pamer dikit boleh kali ya?
Untuk diriku yang tidak terlalu menggemari lagu galau, lagu-lagu Juicy Luicy entah kenapa menjadi pengecualian. Banyak lagu mereka yang terasa relate dengan perjalanan patah hatiku. Apalagi lagu Sialan yang ia nyanyikan bersama Adrian Khalif. Lagu itu adalah lagu yang pernah mantanku request ketika aku siaran di Radio sesudah hubungan kami berakhir. Lucu juga sih kalau diingat-ingat. Semoga dia gak baca tulisanku yang ini deh ya. Malu euy kalau ketahuan gibahin orang disini dan orangnya tahu. Hahaha.
Lagu Juicy Luicy yang menurutku paling ngena di malam itu selain Sialan adalah Gurun Hujan dan Bukan Orangnya. Dua lagu bagai dua kutub berseberangan. Gurun Hujan ketika aku merindukan satu mantanku yang sialan itu, bertanya apakah bisa kami bertemu lagi namun disaat yang sama Bukan Orangnya juga bermain dipikiran karena ya memang mungkin bukan dia aja orangnya. Sesimpel itu ya.
Konser malam ini pun ditutup dengan penampilan Aloy yang menurutku cukup pecah. Dengan sisa-sisa energi yang ada, entah kenapa badanku masih sanggup aja untuk berjoget kesana kemari sedangkan Lily sudah tampak kelelahan. Orang-orang di belakang dan sebelah kananku juga sudah terlihat lelah semua. Ya iyalah, orang kami dari jam dua siang sudah harus mengantri. Energiku aja kali ya yang mendadak kelebihan? Entahlah. Jujur pinggang, tulang, dan seluruh badanku sudah terasa remuk namun tidak kuhiraukan. Kapan lagi kan bisa nonton konser seperti ini? Di kota orang pula.
Seusai aku dan Lily berfoto-foto, kami berdua bergegas menuju parkiran dengan kondisi Lily yang tergoda aroma telur gulung yang masih hangat. Rencana awalnya, kami hendak menyambangi cafe yang menjual kue Lekker, namun apa daya kami begitu lelah dan kelaparan jadi kami memilih mampir ke salah satu warung Ayam Penyet yang malam itu tampak ramai.
Walaupun sempat ragu apakah tempat ini memang benar enak atau hanya ramai karena sedang ada konser, kami pun mantap memesan seporsi ayam nasi untuk berdua lengkap dengan dua gelas es teh. Iya, sepiring berdua. Kurang romantis apalagi coba?
Dan surprisingly, rasa ayam dan sambalnya enak menurut selera kami. Dengan sisa tenaga yang ada, aku sudah tidak sanggup jika harus nongkrong lagi di cafe itu walau hanya berjarak berapa meter dari tempat ayam penyet.
Ketika aku hendak mengeluarkan motor dan menunggu Lily untuk naik, siapa sangka segerombol kecoa malah naik ke kakiku??? Refleks aku berteriak kencang karena kaget dan geli, membuat semua orang yang ada di warung ayam penyet itu menoleh kearahku dan Lily cuma bisa ngakak kencang.
Kecoa sialan!
Untung ayam dan sambalnya enak.
Drama pun tidak berakhir disitu. Sesampainya kami berdua di penginapan, aku bertanya pada Mas-mas yang berjaga mengenai password wifi dan Masnya bilang ada tertera di tembok samping televisi. “Gak ada tuh Mas,” asbunku asal.
Mas nya izin masuk dan mengecek. Ternyata password nya ada seperti yang dia bilang. Aku dan Lily hanya tertawa canggung. Efek capek mungkin.
Lalu kami bergantian mandi dan hendak merayap ke atas kasur sampai Lily nyeletuk,
“Mi, ini kasur gak ada selimutnya?” Tanya Lily.
“Masa iya? Coba kamu tanya Masnya keluar.” Pintaku karna jujur aku sudah kelewat lelah.
Masnya pun datang dan izin masuk ke dalam kamar, berkata selimutnya hanya terlipat rapi dibawah bantal dan aku hanya geleng-geleng ngakak sambil bertukar tatapan dengan Lily. Sialan memang.
“Aku udah mau bilang tapi kamu keburu jalan.” Ujarku pada Lily sambil tertawa.
“Memang Masnya harus banyak sabar ngeladenin dua princess.” Canda Lily lagi dan kami hanya tertawa sepanjang malam mengingat rentetan kejadian malam ini.
Malam dihabiskan dengan kami yang banyak ngalor-ngidul tentang beragam hal, sembari menunggu Lily memilih lagu untuk foto yang hendak ia unggah di Instagram story. Aku juga baru tahu ada loh orang yang milih lagu buat story aja sampai jam setengah tiga pagi belum selesai-selesai. Itu juga masih diulang-ulang terus.
Aku memilih tidur lebih dulu karena tidak kuat lagi. Paginya, hujan deras menyambut kami. Untungnya, kami sudah beli dua jas hujan kemarin. Jaga-jaga hujan turun sewaktu konser semalam. Seusai beres bersiap, kami bergegas check out dan anehnya, hujannya hanya deras di tempat kami menginap saja. Begitu kami keluar jalan kecil, hujannya justru berhenti.
Kami berdua mampir sebentar ke Roti Tiam untuk membeli oleh-oleh sekaligus sarapan. Sempat sedikit berbincang dengan tukang parkir yang ternyata juga orang Samarinda, hebat juga tukang parkirnya bisa langsung menebak kami berdua orang Samarinda.
Begitu kami masuk ke dalam Bis, ada saja orang yang menawarkan diri mengangkatkan barang kedua princess ini. Hahaha. Princess treatment everywhere.
Setelah makan roti, kami pun tertidur lelap sepanjang perjalanan pulang ke Samarinda. Lelah bukan main memang karena harus langsung bekerja lagi sesampainya aku disana. Namun tidak masalah, karena semua rasa lelah dua hari terakhir terbayarkan dengan kenangan yang tidak tergantikan. Hehehe.
Usai sudah ceritaku dan perjalananku dengan Lily malam itu. Terima kasih sudah berkenan membaca!
Komentar
Posting Komentar