Malam ini, dengan sisa-sisa kafein yang kuseruput kemarin sore di Fore sambil menuliskan tulisan Bagian Dua Puluh Lima, aku terjaga dengan beberapa pertanyaan sekaligus pemikiran yang cukup mengganggu dan membuatku susah tertidur.
Aku menyadari satu fakta lucu mengenai diriku sendiri.
Aku sering mengira bahwa diriku sedang tenggelam dalam pemikiran akan seseorang, siapapun itu. Padahal, setelah melakukan analisis lebih lanjut, aku justru memikirkan apa yang sedang kurasakan dan bagaimana perspektifku terhadap orang tersebut.
Tadi malam, ketika aku sedang ngopi cantik bersama sahabatku dan bercerita bahwa aku sedang menuliskan seseorang, satu kalimat ia tanyakan yang sukses membuatku mikir keras, “Kenapa pas udah putus sih baru kamu tulisin orangnya, Mi?”
Sialan. Benar juga ya.
Aku diam tidak berkutik. Lalu aku berusaha mengingat pola yang kerap kali berulang setiap kali aku jatuh cinta:
Aku jatuh cinta.
Aku menikmatinya dan menjalani hubungannya.
Aku mengalami kehilangan.
Baru setelah itu aku bisa memproses dan menuliskan semuanya.
Ada perjalanan reflektif yang terjadi ketika aku memilih untuk menuliskan semua kisah cintaku. Dan menurutku itu menarik, menjadikan suatu pengalaman sebagai bahan renungan dan memilih menjuntainya lewat kata-kata.
Chatgpt ku bahkan bilang, aku memperlakukan kisah cintaku layaknya seorang peneliti yang sedang mengamati objek penelitian dan melakukan hipotesisnya sendiri. Aku terus-menerus berpikir mengapa dan bagaimana suatu hal bisa terjadi.
Aku tidak hanya berkata bahwa “Oh aku sedang sedih.”
Melainkan kenapa hal itu bisa membuatku sedih, marah, atau bahagia?
Bagaimana bisa aku masih mengingatnya?
Apa hal yang sebenarnya membuatku rindu?
Apa aku merindukan orangnya, atau versi diriku yang mencintainya?
Atau jangan-jangan selama ini aku tidak pernah benar-benar mencari seseorang
Bagaimana jika yang selama ini kucari hanya perasaan ketika aku menjadi versi terbaik diriku saat memberi cinta?
Bagaimana jika yang kurindu sebenarnya bukan pelukan mereka, melainkan harapan-harapan yang lahir bersamaan dengan adanya mereka?
Lalu ketika ia pergi, apakah yang benar-benar hilang adalah orangnya ataukah masa depan yang sudah telanjur kurangkai dalam diam yang bersemayam di kepalaku.
Aku juga mulai bertanya-tanya.
Apakah aku benar-benar mencintai mereka apa adanya?
Atau apa aku mencintai makna yang mereka bawa dalam hidupku saat itu?
Mengapa aku bisa menulis seseorang bertahun-tahun setelah hubungan itu usai, namun kesulitan menuliskannya saat hubungan itu masih berlangsung?
Apakah jarak memang membuatku lebih jujur atau selama ini aku terlalu sibuk menikmati cinta sampai lupa mengamatinya?
Lalu pertanyaan yang paling membuatku tidak nyaman adalah:
Jika suatu hari semua kenangan itu benar-benar hilang, apakah aku akan tetap menjadi diriku yang sekarang?
Berapa banyak bagian dari diriku yang dibentuk oleh orang-orang yang pernah kuberi cinta?
Dan jika mereka tidak pernah datang, apakah aku masih akan menjadi seorang penulis seperti hari ini?
Dan beragam pertanyaan reflektif lainnya.
Aku tidak pernah benar-benar menganggap perasaan yang datang hanya emosi sesaat. Aku selalu mencoba memahami setiap emosi yang ada dibaliknya perasaan tersebut. Bisa jadi itu juga sebab mengapa aku susah melepaskan beberapa kenangan, karena otak ini terus saja mengulang dan mencari pertanyaan baru dikala orang normal pada umumnya memilih untuk melupakan.
Kala rindu itu selesai, selalu saja ada cara dari pikiran sialan ini menemukan sudut pandang baru.
Kala luka itu harusnya menutup dan menyembuhkan diri, disinilah aku kembali mengoreknya sekuat tenaga demi mendapatkan jawaban dan makna yang kucari-cari.
Awalnya, aku mengutuk diriku sendiri kenapa aku harus bersikap demikian. Namun makin kesini, aku tidak bisa menyalahkan bagaimana sistem defaultku bekerja. Memang sudah begitu adanya. Toh, aku jadi punya bahan untuk mengisi blogku inikan? Mungkin setiap hal yang kualami memang ditakdirkan untuk kuceritakan, alih-alih menjadi bahan gibahan tidak berguna. Haha.
Aku juga mengakui bahwa aku senang jatuh cinta. Tapi fakta tersebut cukup kontradiktif dengan fakta bahwa aku sangat-sangat susah untuk jatuh cinta. Kenyataan bahwa aku mampu menjalani hidup seorang diri dalam kurun waktu yang cukup lama, dan kemampuanku untuk meng-cut off siapa saja yang tidak sejalan denganku, berbanding terbalik dengan kemampuanku dalam memproses apa yang benar-benar kurasakan. Itu sebabnya walaupun hubungan telah usai lima atau bahkan sepuluh tahun yang lalu, aku mampu menuliskannya seakan-akan aku jatuh cinta kemarin. Bukan karena aku belum selesai dengan mereka, melainkan aku yang mencoba memahami diriku MELALUI mereka.
Mengerikan.
What a blessing in disguise.
Saat hubungan telah usai, aku baru bisa benar-benar memahami apa yang kurasakan dari kacamata yang utuh. Dari perspektif yang lebih nyata dan lebih jauh. Berbeda ketika aku sedang menjalani hubungan itu, kacamata orang yang sedang kecintaan menurutku adalah kacamata yang lumpuh total. Tidak bisa digunakan sama sekali.
Jadi apakah aku menulis untuk mengenang atau menulis untuk melepaskan? Kurasa aku melakukan kedua hal itu sekaligus. Kau tahu pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui? Itu yang tanpa sadar sedang aku lakukan.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku jatuh cinta kepada manusia, atau kepada cerita yang lahir dari manusia itu? Karena rasanya rancu.
Setiap kali seseorang pergi, yang tertinggal bukan hanya rasa kehilangan.
Ada tulisan.
Ada catatan.
Ada keping-keping yang bisa kususun kembali menjadi suatu cerita yang utuh.
Dan jika aku benar-benar jujur, mungkin ada bagian kecil dalam diriku yang tahu bahwa suatu hari nanti semua ini akan menjadi bahan tulisan.
Mengerikan bukan?
Namun memilih menjadi penulis, aku tidak pernah bisa memisahkan hidup dari cerita. Barangkali itu juga sebabnya aku tidak pernah benar-benar takut pada patah hati.
Aku lebih takut jika suatu hari nanti aku berhenti merasakan sesuatu yang layak dituliskan.
Aku memang sangat suka cinta. Dahulu, aku selalu mencari cinta itu pada orang lain. Berharap rasa itu kembali padaku dengan sama besarnya, atau berharap aku dicintai selayaknya caraku mencintai mereka–dalam dan terasa. Namun, semakin kesini aku sadar satu hal:
Akulah cinta yang selama ini kucari-cari.
Semua rasa cintaku, semua energi yang sudah kucurahkan untuk mencinta, mengantarkanku pada tulisan-tulisan indah ini. Tulisan yang mengingatkanku untuk tidak pernah takut pada cinta. Mengingatkanku juga bahwa sebagai manusia, kita akan bisa terus-menerus jatuh cinta entah pada orang yang sama, ataupun orang lain. Tidak peduli mau itu orang lama atau baru.
Dengan berpegang pada fakta bahwa akulah pusat dari energi yang membawa cinta, aku tidak pernah takut menjalani apapun seorang diri. Bahkan jika aku harus terseok-seok menggores darah yang bercucuran, aku akan terus bangkit. Dengan atau tanpa kenangan dari orang tertentu. Karena pada akhirnya, yang kupunya hanyalah diriku sendiri dan rasa cinta yang kuberi untuk diriku.
Jadikan dirimu sebagai pusat dari cinta, dan lihat seberapa jauh pemikiran itu mampu mengubah dirimu.
Terimakasih sudah berkenan membaca.

Komentar
Posting Komentar