Bagian Dua Puluh Tujuh: Teori Empat Tungku


   

Pada suatu malam ketika aku lagi nongkrong di Citra Niaga bersama seorang teman lama, kami bertukar cerita mengenai banyak hal hingga sampailah di pembahasan mengenai The Four Burners Theory, atau Teori Empat Tungku. Dia menjelaskan padaku bahwa manusia hanya bisa menyalakan maksimal tiga dari empat tungku dalam hidupnya. Keempat tungku tersebut adalah:

  1. Keluarga 

  2. Karir

  3. Pertemanan 

  4. Kesehatan 

Teori itu juga berkata bahwa jika ingin menjadi sangat sukses dalam hidup, maka kita harus mematikan dua tungku dan fokus hanya pada dua tungku utama. Tungku-tungku ini juga membutuhkan waktu, tenaga, perhatian, dan komitmen yang harus kita curahkan.

Sebenarnya untuk sekarang diumur 26 tahun ini, teori tersebut belum terlalu relate denganku karena aku belum memiliki keluarga kecilku sendiri, tetapi aku bisa mengerti kenapa teori tersebut bisa muncul dan cukup populer. Karena pada dasarnya kita manusia memiliki keterbatasan, dan kita sebagai manusia tidak bisa memiliki semuanya dalam hidup. Teori ini secara tidak langsung mematahkan keinginan umum manusia yang menginginkan semua hal dalam waktu yang bersamaan.

Malam itu, temanku bertanya padaku tungku mana yang sedang aku nyalakan dalam kehidupanku saat ini. Jujur aku agak sedikit kebingungan menjawabnya dan terdiam beberapa saat. Sampai aku berkata mungkin tidak ada tungku yang benar-benar mati pada saat ini, tapi aku berfokus pada karir dan kesehatanku. Dan mulai ‘sedikit meredupkan’ tungku keluarga dan pertemananku walaupun tidak sepenuhnya mati.

Akhir-akhir ini aku menyibukkan diri dengan rutinitas gymku selain pergi bekerja dan menyelesaikan tugas kuliah. Di hari libur, barulah aku meluangkan waktu untuk bersantai dengan teman-temanku atau sekedar berjalan-jalan dengan adik kecilku. Aku tidak benar-benar mematikan kedua tungku tersebut, hanya membagi skala prioritas berdasarkan apa yang kubutuhkan saat ini.

Walaupun saat ini aku sedang tidak fokus dalam urusan percintaan, aku tidak menutup kemungkinan untuk orang baru untuk datang. Dan juga walaupun aku tidak terlalu memprioritaskan pertemananku, bukan berarti aku melupakan mereka.

Dan kurasa, ketika aku mulai menerima fakta bahwa tidak semua tungku kehidupan bisa aku nyalakan penuh keempat-empatnya, aku mampu mengelola stressku dengan cukup baik. Aku merasa semuanya lebih terkendali tanpa ada hal yang harus paksakan diluar kesanggupanku.

Teori ini juga mengingatkanku bahwa mungkin yang selama ini orang keluhkan ketika mengalami burnout (kelelahan mental) bisa jadi karena ia memaksakan semua hal sekaligus. Ingin semua aspek kehidupan berjalan mulus. Mulai dari aspek percintaan, karir, kehidupan sosial, sampai kesehatan yang mungkin dipaksa harus semuanya sempurna. 

Hal ini umum terjadi pada kaum dewasa awal di fase umur 20-an. Apalagi sejak adanya media sosial. Kita jadi lebih rawan merasa tertinggal ketika melihat seseorang memiliki segalanya. Karir yang nampak cemerlang, pernikahan yang digelar mewah, maternity shoot yang aesthetic, jalan-jalan keluar negeri, ikut padel yang sedang hits, dan lain sebaginya. Padahal yang kita tidak ketahui dibalik layar, orang tersebut pastilah mengorbankan satu dari sekian banyak prioritas hidupnya untuk mencapai kehidupan yang tampak ideal tadi. Kita hanya tidak melihat perjuangan dan proses dibaliknya.

Ada orang yang memilih mengorbankan percintaannya karena sedang gencar-gencarnya mengejar karir dan jabatan. Disisi lain, ada juga orang yang rela meninggalkan karir dan jabatannya demi bisa fokus pada keluarga kecilnya (banyak sekali wanita yang kutemui seperti ini). Ada pula orang yang sedang fokus recover kesehatannya, sampai rela mengurangi kehidupan sosial dan pekerjaannya.

        Semua itu adalah pilihan hidup.

        Dan dibalik semua pilihan mesti ada yang dikorbankan.

        Namun jika dipikirkan lebih lanjut, teori ini tidak bisa dijadikan patokan karena tidak selamanya benar. Pada nyatanya kehidupan manusia jauh lebih kompleks dari keempat tungku yang ada dalam teori. Bisa jadi ada manusia lain diluar sana yang beruntung bisa menyalakan keempat tungkunya dalam satu waktu–walau aku belum pernah menemukannya.

    Pada akhirnya, mungkin tujuan hidup bukanlah memastikan semua tungku menyala terang pada saat yang bersamaan. Mungkin yang lebih penting adalah mengetahui tungku mana yang sedang paling membutuhkan perhatian, lalu menerima bahwa tungku lainnya harus diredupkan untuk sementara waktu.

    Dan mungkin kedewasaan bukan tentang berhasil memiliki semuanya, melainkan tentang mengetahui apa yang perlu diprioritaskan pada musim kehidupan yang sedang kita jalani.


Komentar