Semakin aku beranjak dewasa dan semakin aktif aku bersosialisasi, aku semakin menyadari bahwa tidak semua orang seberuntung itu dapat memiliki ‘cahaya’ di matanya. Ada beberapa orang yang kutemui, walau sedang tersenyum ramah sekalipun, binar cahaya itu tidak jua muncul dan terlihat.
Berdasarkan observasiku, penyebabnya pun bisa beragam. Kebanyakan dari orang-orang ini bisa jadi merupakan people pleaser, yang mana mereka adalah orang dengan rasa gak enakan tingkat tinggi. Sebagian lagi mungkin memiliki sesuatu dibalik pikiran bawah sadarnya yang belum kunjung usai, atau bisa saja ada suatu hal yang mengganggu pikiran sehingga memadamkan cahaya itu.
Yang kutahu, seseorang bisa saja memiliki bentuk mata yang paling cantik di dunia namun jika tatapan matanya terasa kosong, keindahan tersebut nenjadi sesuatu yang sia-sia. Dan sebaliknya, seseorang bisa memiliki bentuk mata yang tidak terlalu menarik (mata sayu, misalnya) tetapi jika cahaya itu terpancar dalam sorot tatapannya, dia bisa memiliki kemampuan untuk menghidupkan satu ruangan jika ia mau.
Entah karena terbiasa mengamati orang lain tanpa sadar, aku sendiri bisa menentukan seseorang memiliki cahaya itu atau tidak kurang dari 10 detik aku memandangnya. Sebuah skill yang jujur agak tidak mengenakkan karena cenderung bias, dan mungkin terlalu banyak hipotesis sendiri memang, but I just can tell it.
Beberapa orang yang kutemui juga ada yang beruntung karena mereka memiliki cahaya tersebut dengan natural (mungkin bawaan dari lahir), namun ada juga orang yang berusaha mengembalikan cahaya tersebut dengan segenap jiwa ketika menyadari cahaya itu mulai hilang atau terenggut.
Dan aku adalah salah satu orang yang sangat berusaha itu.
Beberapa tahun lalu ketika aku mengalami depresi berat, aku menyadari sorot kedua mataku meredup tidak seperti biasanya (tidak seperti yang kau lihat sekarang). Bahkan Ibuku sendiri juga mengatakan demikian. That I look different than I used to. Dia bilang sekarang aku sudah sembuh dan mataku jauh lebih bercahaya.
Bahkan jika aku melihat foto-fotoku tahun lalu ketika aku kehilangan spark diriku, mataku jauh terlihat berbeda dengan foto-fotoku yang kuambil tahun ini. Semakin aku menemukan dan kembali pada diriku sendiri, kurasa semakin cahaya itu terpancar dibalik bola mataku.
I can proudly say even if I did face a breakup this year, it didn’t affect the light in my eyes.
Menurutku, orang-orang yang menemukan tujuan hidupnya–and passionate with it, secara otomatis mampu membuat sorot matanya jauh lebih bersinar. Aku cukup bisa menebak kondisi seseorang hanya dengan menatap matanya, sometimes it can says a lot and louder than your mouth. Selain bisa melihat itu di orang lain, aku juga cukup sadar dengan kondisi diriku sendiri terutama sorot mataku ketika sedang mengalami atau merasakan sesuatu.
I can tell and feel myself when I want people to perceive me as innocent, or vice versa.
If I want you to assume me as bold and wild, I can make my eyes say that and make it clear to you by just looking straight at you.
Memiliki latar pendidikan Ilmu Komunikasi membuatku sedikit banyak belajar mengenai body language. Aku tidak bilang bahwa aku ahlinya karena masih banyak sekali yang harus kupelajari, but I just can always tell by your body language.
And the eyes, are the easiest to read.
Aku juga tidak serta-merta lahir dengan sorot mata setajam ini kok. Ada kepercayaan diri yang perlu dibangun bertahun-tahun dibaliknya. Keyakinan terhadap batasan diri juga biasanya tanpa sadar terlihat dari tatapan mata seseorang.
Lucunya, ada hal yang sedikit kontradiktif terjadi pada diriku. Dibanyak waktu, aku selalu tidak memiliki masalah jika harus bertatap mata (eye contact) dengan 100 orang audiens dihadapanku. Tapi anehnya begitu ditatap dengan orang yang kusayang, entah kenapa gugupnya jauh mengalahkan tatapan 100 orang tadi.
Aneh, ya?
Salting kah kamu Ismi? Wkwkwk.
Aku juga punya satu teman kerja yang kurasa tidak punya cahaya itu, namun setiap kali aku mengajaknya berbicara dan berinteraksi, binar cahaya itu pun muncul di kedua matanya. Entah apa aku tanpa sengaja menularkan energiku padanya, aku juga tidak paham. Setiap kali aku melontarkan banyolan yang cukup asbun, kurasa ia terhibur dan cahaya itu ikut tersirat di matanya. Sejauh ini juga aku cukup senang karena bisa menularkan energi itu.
Apakah jika kita mampu melihat cahaya di orang lain, kita juga bisa menjadi alasan cahaya itu muncul di mata orang lain?
Ada juga satu teman kerjaku yang kurasa matanya sangat ‘hidup’ ketika sedang bercerita. Mengenai apapun itu. Saat aku sedang lelah, aku pun seringkali juga ikut ‘hidup’ karena kehadiran temanku ini. Bahkan ketika aku sedang mendengarkan ceritanya saja. Menurutku, dia sangat cantik karena energi kehidupannya terpancar. Tidak semua orang bisa melakukan hal itu dengan natural.
Sebagai orang yang cukup sadar akan hal ini, aku cenderung memilah orang-orang yang dekat denganku dari matanya. Kebanyakan sahabat dekatku kupilih berdasarkan sorot mata (dan juga energinya) secara keseluruhan. Aku bisa saja menjaga jarak dengan seseorang just because I feel something is off from them. Dan aku tidak akan memaksakan hal itu. Energi yang bentrok memang bukan suatu hal yang bisa dipaksakan, sih.
Dan juga sebagai wanita yang sudah dewasa, my intuition most of the times tells me if a man is a predator looking for a prey by his eyes. Terlebih seorang manipulator handal. Apalagi jika orang tersebut mulai berbicara, biasanya tanpa sadar dia semakin memvalidasi ke ‘predatoran’ dirinya sendiri.
Beberapa predator yang kerap kali viral atas kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual dimataku mempunyai satu kesamaan dari sorot matanya yang tidak bisa kujelaskan. Something is just not right and strange at the same time. Biasanya sorot mata mereka terasa picik dan tidak tulus.
Lalu apa yang kulakukan jika harus berhadapan dengan orang semacam ini? Sudah sering kutemui beberapa kali di kehidupanku, dan aku cukup terlatih (walaupun belum bisa dibilang ahli) untuk tidak jatuh dalam jebakan pria-pria ini.
Most of the times, I will just mirror their energy.
Two manipulators can’t perform to each other.
Terkadang, kita sebagai wanita juga tidak bisa terlalu naif kepada kehidupan. They will just eat your soul alive if you are not aware enough and learn to protect yourself.
Kesimpulan dari akhir ceritaku, hanya karena seseorang sedang berada di fase bahagia dalam hidupnya, bukan berarti cahaya itu bisa ikut hadir bersama tatapannya. Bahkan seorang pembohong handal pun mampu membuat cahaya itu nampak alami jika tidak dicermati lebih dalam.. dan aku adalah salah satu pembohong handal itu.
There are times I can always fake and hide how I feel, and you would never be able to tell.
And perhaps that is the irony: the eyes may be the window to the soul, but even windows have curtains.

Komentar
Posting Komentar