Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Bagian Sembilan: Jalan-jalan Malam di Tengah Hujan

Gambar
Wah sudah lama sekali tidak menulis. Hampir sebulan lebih. Thanks to pubg   which made me too lazy to write lately. Langsung saja.. Kebiasaan mengulur-ngulur waktu nampaknya memang sudah melekat sekali pada diriku. Terbukti dari tugas Jurnalistik yang seharusnya kukerjakan tadi sore setelah kondangan, justru kuulur lagi dengan alasan ingin tidur sebentar. Sungguh, rasanya tubuh ini seperti ditumbuk berkali-kali. Remuk. Sebuah resiko yang harus kutanggungt karena kurang mendapat tidur yang nyenyak kemarin malam.             Setelah terbangun sekitar jam 7, aku menyiapkan makan terlebih dahulu karena cacing-cacing dalam perut sudah mulai bergemuruh. Tentu, dengan menu favoritku akhir-akhir ini yang kuulang berkali-kali, oatmeal telur ditambah ikan patin rebus. Dan tentu saja ... tiga siung bawang putih cincang kesukaanku.             Setelah menuntaskan urus...

Bagian Delapan: Bengkel Muatakmu!!

Gambar
            Jadi ceritanya aku langsung ngetik ini karena baru aja ngebahas tentang kebodohanku sama Megan—teman dari SMP—lewat whatsapp . Karena ngerasa geli aja gitu, iya aku geli sama kebodohanku sendiri, makanya mau aku tulis. Itung-itung buat kenangan kan.             Dan juga karena ini bahasannya nggak berat-berat banget kayak postinganku yang sebelumnya, jadi bahasanya juga nggak bakal tinggi-tinggi banget. Aku pakai bahasa biasa aja nih walaupun susah (karena keseringan nulis pake bahasa yang ribet kali ya). Tapi percaya deh, seenggaknya aku udah berusaha. Hahahah. Lanjuuut, kurang lebih seminggu lalu, hari Jum’at tanggal 24 Januari, aku sama Megan lagi main ke SMP kita yang dulu. Emang udah jadi rutinitas sih buat kita berdua main-main ke SMP kalau ada waktu senggang (atau kalau lagi ada masalah hehe) sambil datengin guru-guru yang lama dan Alhamdulillahnya masih ngajar. Kebe...

Bagian Tujuh: Terlahir Menjadi Kidal

Gambar
Sebanyak 10% dari populasi manusia di dunia adalah Kidal—yang artinya kiri dari lahir—atau dalam Bahasa Inggrisnya disebut lefthanded . Dan aku, termasuk salah satunya. Tentu disatu sisi aku boleh saja menyebut diriku langka. Namun disisi lain, aku tetap tergolong sebagai minoritas.             Menjadi minoritas karena terlahir kidal di negara penganut adat ketimuran seperti Indonesia memang susah-susah gampang. Apalagi tangan kiri seringkali dikait-kaitkan dengan sebutan ‘tangan jelek’. Sedangkan kembarannya, tangan kanan, selalu dielu-elukan dengan julukan ‘tangan manis’. Duh, macam anak tiri aja si tangan kiri ini.             Parahnya, dalam ajaran agama, melakukan sesuatu dengan tangan kiri bahkan tidak jarang disebut tangan ‘setan’. “Tidak boleh makan pakai tangan kiri, tangan kiri tangannya setan,” begitu kata orang tua kebanyakan. Yaampuuuun. Ingin aku menan...

Bagian Enam: Mulutmu, Egomu, Harimaumu

Gambar
            Pepatah mengatakan, “Mulutmu, Harimaumu.” Dua kata sepele yang sebenarnya kalau kita telisik lebih dalam, mempunyai pemaknaan yang luas dan membuka mata. Dikatakan mulut karena melalui mulut, segala bentuk ucapan lisan kita lontarkan. Dikatakan harimau sebagai simbolisasi yang berarti, ucapan kita sendiri lah yang mampu menikam kapan saja.             Boleh jadi ucapan yang dimaksud disini ialah ucapan yang mengandung kemarahan. Ucapan yang seharusnya tidak kita lontarkan karena akan berdampak menyakitkan. Ucapan yang semestinya kita pikirkan dua kali sebelum terluapkan. Ya, lisan dan kemarahan memang suatu kombinasi berbahaya. Yang mampu merusak segenap rasa percaya begitu saja.             Jangan lupakan ego yang mendominasi pikiran. Karena luapan kemarahan itu tidak mungkin keluar begitu saja...

Bagian Lima: Berbicara Tentang Pernikahan

Gambar
            “Doakan, ya, biar aku bisa nikah sama dia suatu hari nanti.” Adalah salah satu kalimat penuh pengharapan yang mulai sering kudengar akhir-akhir ini di umurku yang menginjak 19 tahun, yang notabenenya setahun lagi akan memasuki fase 20-an. Percaya atau tidak, ketika mulai memasuki perguruan tinggi, obrolan perihal menikah sedikit demi sedikit mulai tidak asing dibicarakan oleh teman-teman sebayaku. Entah mereka serius atau tidak, aku tidak yakin. Terkadang juga aku bertanya-tanya, apa teman-temanku yang kerap menggembar-gemborkan nikah muda ini sudah memahami betul apa itu pernikahan beserta konsekuensinya? Mungkin untuk sebagian orang, adalah hal lumrah bagi seorang wanita yang baru memasuki awal 20-an untuk membicarakan pernikahan. Apalagi kita tinggal di Indonesia, yang merupakan salah satu negara yang gemar mendoktrin para wanita-wanita muda agar menikah muda di awal usia 20-an, dan menganggap menikah d...