Bagian Dua Puluh Tiga: Tentang Misi Sampingan Dalam Hidup



Saat aku sedang senggang, tidak sengaja aku membaca sebuah utas dari @rinodjati tentang kehidupannya yang ia sebut membosankan karena hanya bekerja, makan, tidur dan pulang kerumah setiap harinya. Rino menyebutkan bahwa hidup manusia ini layaknya game RPG yang kerap ia mainkan, bahwa manusia memiliki main quest dan side quest masing-masing.

Main quest yang dimaksud adalah sekolah, kuliah, bekerja, mencari pasangan, lalu menikah. Sedangkan side quest nya? Itulah kunci yang membuat hidup kita lebih berwarna. Jika hanya terus mengerjakan main quest kehidupan tanpa diselingi dengan kegiatan lainnya, hidup bisa menjadi ‘kekurangan cerita’ yang bisa disampaikan. 

Dan setelah dipikir-pikir, aku sendiri mungkin bisa dibilang orang yang cukup disibukkan dengan beragam side quest sejak zaman aku sekolah. Banyak sekali hal yang sudah kucoba, mulai dari menulis cerita fiksi, belajar menyanyi, belajar bermain gitar sampai membentuk sebuah band untuk perpisahan sekolah, mulai mendaftar member gym sejak zaman SMA, menamatkan beberapa karangan fiksi berbahasa inggris, belajar sketsa menggunakan pensil bahkan sampai menggambar vektor pun pernah kulakukan.

Dan yang kujalani sekarang sembari bekerja dan menekuni kuliahku adalah menulis blog ini, sesekali melakukan cover lagu di akun soundcloudku dan sekarang sedang mempertimbangkan (dan menabung) untuk membeli gitar baru, guna menunjang aktivitas cover laguku yang iseng-iseng tidak berhadiah itu. Doakan ya!

Bahkan, aku bisa menyebut diriku ini orang dengan segudang side quest, sampai terkadang main quest seperti sekolah dan kuliah itu menjadi hal yang opsional saja. Hehehe. Menurutku melakukan hal-hal tersebut selain menyenangkan, juga mampu membuat kita semakin bersemangat menjalani hidup.

Aku ingat sekali pada zaman SMP sekitar tahun 2013, aku menabung berbulan-bulan dari uang sakuku sehari-hari untuk membeli gitar yang sangat kutaksir di Gramedia. Dulu, datang ke Gramedia adalah hal yang rutin kulakukan bersama sahabatku. Bukan hanya melihat-lihat dan membeli buku, kami juga sering mencoba alat musiknya yang berada di lantai satu.

Ketika sahabatku itu mencoba grand piano yang sangat ia taksir, perhatianku selalu tertuju pada deretan gitar akustik berwarna kecoklatan dan juga hitam. Setelah dua sampai tiga bulan menabung, aku pun membawa pulang gitar bermerk Legacy seharga satu jutaan. Bahagia minta ampun sih waktu itu hehe. Oh iya, sebelum memiliki gitar Legacy itu, aku membeli gitar biasa seharga dua ratus ribuan untuk kucoba-coba belajar.

Setelahnya, aku belajar otodidak dari tutorial yang sering kuliat di youtube. Hampir sebulan full aku berusaha menghapal kunci-kuncinya, sampai dititik aku bilang kepada diriku sendiri:

Wah, kayaknya butuh ikut kursus nih. Butuh banget ada yang ngajarin langsung.”

Tapi pada saat itu aku tidak mungkin meminta begitu saja pada orang tuaku, karena aku sudah diikutkan les konvensional yang harganya lumayan. Jadi jalan satu-satunya adalah aku menabung dengan uang mungilku sehari-hari. Setelah menyambangi beberapa tempat, akhirnya pilihanku jatuh pada tempat kursus musik yang berada di jalan Danau Toba, dibelakang SMP ku dahulu.

Bermodalkan dua ratus ribu untuk empat kali pertemuan selama satu bulan, aku pun mengikuti sesi kursus tersebut dengan intens selama satu jam. Aku ingat dulu aku belajar satu lagu penuh dengan not balok yang aku juga kebingungan bagaimana membacanya. Bahkan sampai diberi satu buku berisi beberapa judul lagu yang bisa dimainkan lengkap dengan not balok dan juga not angka.

Aku sudah lupa siapa nama guru les gitarku saat itu tapi wajahnya masih terekam jelas diingatan lengkap dengan rambut panjang belah tengah yang tidak pernah ia kuncir itu. Setelah dua bulan aku belajar, aku pun menyudahi kursus tersebut dan memilih untuk berguru otodidak lagi melalui youtube.

Ketika SMP itu, hampir setiap hari aku selalu membawa gitarku dan bernyanyi bersama teman-teman di depan kelas atau dipinggir taman. Aku ingat sekali lagu yang kubawakan tidak jauh dari Taylor Swift dan One Direction. Aku juga ingat aku sempat naksir anak laki-laki dikelas 9B yang juga kadang-kadang membawa gitarnya dan bernyanyi. Saat itu ia juga kerap kali melakukan cover lagu di soundcloud dan kami sudah saling mengikuti satu sama lain. Cie wkwkwk.

Sampai akhirnya perpisahan SMP pun tiba, aku dan sahabat-sahabatku membentuk sebuah band dan mulai latihan beberapa lagu. Kami bahkan sempat ikut lomba band akustik pada tahun 2014 di Mall Plaza Mulia. Bayangin aja bocah-bocah SMP harus melawan kakak-kakak yang mainnya sangat serius dengan pembawaan ciamik. Namanya juga saat itu masih pemula, jadi ya tidak berharap menang juga sih.

Lanjut ke zaman SMA ketika aku berteman dengan seorang gadis yang sangat cantik, ia adalah salah satu teman baikku dari SMP dan juga kami adalah tetangga karna tinggal disatu perumahan yang sama, hanya beda beberapa blok. Dia sangat mahir menggambar, entah sketsa menggunakan pensil sampai yang berwarna, maupun melukis. Aku terinspirasi darinya dan mulai membeli beragam jenis pensil dengan ketebalan berbeda-beda lengkap dengan sketchbook yang lumayan bagus.

Aku juga minta diajarkan teknik sketching yang benar padanya. Dan berapa kali percobaan, gambarku pun pelan-pelan jadi semakin lucu dan enak dipandang. Beberapa hasil gambaranku juga pernah aku unggah ke instagramku. So far, menurutku menggambar adalah salah satu side quest yang cukup memakan waktu dan detail serta fokus yang tinggi.

Oh iya, dulu aku juga suka menulis cerita fiksi. Karena aku suka K-Pop sejak kecil dan bermain roleplayer juga, aku lumayan sering menulis cerita komedi romantis yang sesekali kuunggah di blog khusus fanfiction-ku itu. Sialan, aku baru saja mencarinya dan ketemu! Hahaha. Ketawa banget rasanya membaca tulisan sendiri 14 tahun yang lalu. Malu deh jadinya. Dulu pas lagi nge-hype banget wattpad, aku juga sempat menulis fanfiction Harry Styles, teman sekelasku SMP bahkan sempat membaca dan menanyakan kelanjutannya padaku. Hahaha!

Jangan tanya berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk membaca segala macam fanfiction tersebut. Karena ketika seseorang bisa menuliskannya, pastilah ia juga gemar membaca hal-hal serupa. Mungkin sampai ratusan novel sudah kubaca di wattpad entah itu yang bahasa Indonesia maupun Inggris. Aku suka sekali membaca fiksi romantis seperti itu karena menurutku dengan membaca fiksi kita bisa ikut masuk ke dunia lain dan menjadi pemeran utama.

Lalu menginjak SMA, aku termotivasi untuk berolahraga karena aku melihat salah satu sahabatku berhasil diet dan menurunkan berat badannya sebanyak 14 kilogram. Aku mulai diajak untuk jogging sore setiap pulang sekolah di GOR ataupun Balaikota. Lama kelamaan, aku pun mandiri dan mulai membiasakan jogging seorang diri tentunya dengan earphone yang menempel ditelingaku. Aku ingat betul, tukang parkir di Balaikota itu sampai mencariku jika aku absen jogging di sore hari. 

Terkadang, teman-temanku juga meminta ikut jogging sambil sesekali bercerita alias curhat. Ada beberapa yang jadinya rutin jogging denganku, ada juga yang hanya menemaniku sekali saja. Walaupun kebanyakan kami hanya berjalan kaki sekaligus bercerita, tapi rasanya momen-momen seperti itu sungguh berkesan. Walaupun saat itu aku heran entah kenapa mereka kepikiran untuk ikut jogging sekaligus curhat denganku.

Sampai sekarang olahraga masih sering kulakukan. Di tahun 2023, aku sempat berapa kali bermain badminton dengan teman-teman kuliahku yang saat itu sibuk menyelesaikan skripsi mereka. Terkadang aku jogging sendirian di pagi dan sore hari, serta mendaftar member gym lagi dan bertemu teman baru. Di tahun berikutnya, 2024, aku sempat mencoba poundfit karena diajak teman sesama penyiarku. Hanya sekali datang karena aku tidak begitu menyukainya (menurutku kurang capek aja olahraganya, tidak seperti gym).

Beberapa minggu lalu, aku memberanikan diri ikut badminton dengan kenalan yang baru saja aku kenal. Random aja memang, tapi seru juga setelah dicoba. Bertemu dan bermain dengan lingkungan yang baru membuatku merasa jauh lebih hidup lagi ketimbang sebelumnya. Dan bulan ini, aku memantapkan diri untuk mendaftar member gym di tempat yang baru setelah aku pindah rumah. Memulai lagi semuanya dari awal dan berkenalan dengan orang-orang baru cukup untuk melepas penat dan rasa bosanku.

Entah ‘misi sampingan’ apalagi yang akan kulakukan di bulan ini maupun bulan berikutnya, ditunggu saja gebrakannya ya! Bagiku, hidup terlalu membosankan jika kita hanya melakukan ‘misi utama’ saja. Mungkin memang aku tipe orang yang sangat pembosan. Namun beranjak dewasa, aku sadar bahwa misi sampingan seperti ini ternyata membuatku tetap waras dan bergairah menjalani hidup. 

Menurutku, ada bermacam-macam tipe orang yang melakukan misi sampingan ini. Entah menjadi distraksi, orang yang tipenya pembosan dan gemar mencoba hal baru (sepertiku), life after breakup, atau sesederhana ingin membuat hidupnya menjadi lebih berwarna. Apapun pilihan dan alasan dibaliknya, pastikan kegiatan yang dilakukan mempunyai output yang positif ya!

Mungkin pada akhirnya, hidup memang bukan cuma tentang menyelesaikan misi utama. Tapi juga tentang cerita-cerita kecil yang kita kumpulkan diam-diam sepanjang perjalanan.

Kamu sendiri, termasuk tipe yang mana?

Aku akhiri sampai disini, terimakasih sudah membaca!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian Dua Puluh Satu: Perihal Rindu yang Enggan Kusampaikan

Bagian Dua Puluh Dua: Teruntuk Cinta dan Patah Hatiku Yang Pertama

Bagian Dua Puluh: Perihal Hati yang Memilih Jatuh Lagi