Ketika dua tahun lalu aku menulis Efek Samping Kehilangan, tidak pernah terbesit dipikiranku bahwa aku akan mengalami hal yang sama dua tahun berikutnya. Memang, orang dan apapun itu datang dan pergi silih berganti dalam kehidupan kita. Namun, tidak peduli seberapa banyak pemahamanku atas fakta itu, tidak kunjung membuatku siap dan terbiasa kala kehilangan itu terjadi.
Satu hal yang kusadari dari diriku adalah, aku adalah orang yang cukup mudah melekat terhadap sesuatu–ataupun seseorang dalam waktu singkat dan cenderung susah melepaskannya, walaupun jika diamati dari luar aku nampak biasa-biasa saja.
Kehilangan satu orang ini nyaris sama beratnya seperti aku kehilangan anak-anak (kucingku) dahulu. Milky, Miki, Cya, dan Cyo. Sulit bagiku untuk mengutarakannya dalam kata-kata. Kenapa sama rasanya dengan kehilangan anak kucing? Kurasa karena orang ini dan kucing-kucingku sama-sama merasakan sentuhan kasih sayangku. Semua belaian, pelukan, ciuman, usapan, kuberikan tiada henti.
Aku ingat ketika aku kehilangan kucingku Miki pada tahun 2022, yang kurawat lebih dari lima tahun lamanya, begitu aku melihat tubuhnya terbujur kaku tidak berdaya disela-sela tembok samping rumah lamaku, aku hanya terdiam. Rasa-rasanya tubuhku juga membatu, hal pertama yang kuingat adalah saat-saat kucing kesayanganku yang bulunya bermotif itu melompat ke pangkuanku setiap kali aku duduk menemaninya di depan pintu.
Beberapa minggu kemudian setelah kepergiannya, ketika aku bangun dari tidur siang, aku langsung berlari ke lantai atas menyambangi Mamaku, menangis sejadi-jadinya karena ditinggal pergi kucingku itu. Kucingku yang paling kusayang. Paling tangguh dan pemberani. Mau sebanyak apapun luka-luka disekujur tubuhnya, ia tetap akan pulang dan kembali ke pangkuanku lagi.
Jujur memilih untuk menuliskan topik ini (lagi) membuatku melamun dan terdiam lebih banyak. Ada begitu banyak emosi, luka, kepedihan dan beragam hal tidak mengenakkan lainnya yang kembali harus kuingat dan kurasakan ke permukaan. Menuliskan suatu hal seperti ini berbeda rasanya dengan hanya melamun dan memikirkannya, karena kau harus mengolah apa yang benar-benar ada di dalam pikiran dan perasaan.
Ketika aku kehilangan satu orang sialan ini, ada beragam rasa campur aduk yang terus membayangi hari-hariku. Banyak malam-malam yang kulalui dengan rasa tidak tenang. Seringkali ditengah malam ataupun subuh hari ketika aku terbangun, yang kuingat pertama kali adalah dirinya. Ada perasaan bahwa aku baru saja bertemu denganmu walaupun sesaat.
Bahkan disaat aku tidur siang dengan damai dalam keadaan kelelahan, wajah sialan yang benar-benar kusuka itu bisa saja datang tanpa diundang bahkan ketika aku terlelap. Dan namamu? Adalah hal pertama lagi yang terpikir olehku dari sekian ribu pikiran lain yang ada dalam otakku.
Berkali-kali aku berusaha memikirkan alasan mengapa aku bisa begitu terikat denganmu dalam waktu yang cukup singkat rasanya membuang-buang waktu. Semakin aku mencari, semakin aku tidak menemukannya. Padahal mungkin bisa saja kau memang tipikal pria yang mudah membuat wanita terikat denganmu.
Sialnya, kenapa harus aku orang yang kau temui setelah empat tahun lamanya aku hidup dalam damai?
I just hate the capability of myself loving someone so deeply and turns out it was the wrong person.
And letting go is not as easy as the part of getting to know you.
Dalam The 5 stages of grief, ada lima tingkatan yang umumnya manusia lalui, lima tingkat kesedihan itu adalah:
Denial (penolakan)
Anger (kemarahan)
Bargaining (tawar-menawar)
Depression (depresi)
Acceptance (penerimaan)
Nomor satu sampai empat silih-berganti terulang pada diriku selama lima bulan terakhir, terkecuali yang terakhir. Disatu hari ada rasa marah dan kekecewaan yang begitu besar padamu, membuatku ingin meledak-ledak di depan wajahmu namun tidak bisa (dan tidak mau) kutunjukkan.
Di hari yang lain, ada juga bagian dari diriku yang diam termenung terutama tatkala aku mencoba makanan baru dan pikiran sialan yang pertama muncul adalah “Harusnya aku makan ini sambil disuapin dia nih,” seperti yang dia lakukan saat menyuapiku seporsi nasi mawut sampai habis tidak bersisa.
Aku merindukan saat-saat aku duduk disebelahnya dan fokusku hanya tertuju pada wajahnya. Mendengarkan dia berceloteh ria mengenai apapun itu.. masa kecilnya, pekerjaannya, hari-harinya. Aku juga masih ingat kala diriku tersipu malu ketika dia balik menatapku seperti halnya yang dia lakukan padaku.
Dan satu hal yang paling menyakitiku namun tidak pernah ia tahu adalah, hari dimana dia meninggalkan kota ini dan aku menangis menunggu kabarnya yang tidak kunjung kudapat, adalah hari dimana ia membohongiku. Dia memilih menyembunyikanku dari cerita whatsappnya alih-alih memberiku kabar. Marah, kecewa, sedih, semua jadi satu.
Sampai saat ini pun aku tidak tahu, maaf yang dia lontarkan saat itu apakah maaf karena tertangkap basah dan ketahuan berbohong ataukah maaf yang benar-benar tulus karena menyakitiku? Sejak hari itu aku tahu bahwa hubungan yang kuinginkan dengannya tidaklah sama.
You’re just a boy.
Pada akhirnya dia tidak cukup dewasa untuk benar-benar membangun sebuah hubungan.
Begitu banyak kemarahan yang muncul ke permukaan ketika aku mengingat masa-masa itu. Hari dimana sistem sarafku kacau balau tidak karuan. Dadaku terasa penuh dan sesak. Makan jadi tidak nikmat. Tidur jadi tidak tenang.
Mungkin rasa-rasa tidak nyaman saat dia berbohong dan berkhianat itu bisa menjadi senjata utama tatkala rasa rindu terhadapnya datang. Aku bersumpah akan berdoa bahwa kelak ketika dia mendapatkan hubungan yang baru lagi, dia akan merasakan pengkhianatan oleh wanita yang benar-benar ia cintai 10 kali lebih sakit ketimbang apa yang kurasakan.
Rasa kemarahan dan kebencianku padanya bisa jadi yang mendasari mengapa setelah hubungan itu berakhir, aku malah melakukan hal yang tidak seharusnya. Hal yang dulunya kujanjikan tidak akan kulakukan karena aku tahu seberapa besar kemarahannya. Aku memilih pergi ke suatu tempat yang sangat tidak ia sukai–bahkan ketika aku sendiri tidak suka dengan tempat seperti itu.
If you can do me dirty, so do I.
Pola yang kutemukan pada diriku setiap kali menjalin hubungan selalu sama. Aku akan membalas apapun yang para lelaki ini lakukan terhadapku, sekecil dan seremeh apapun. Bedanya, di dua hubungan terakhir, aku melakukannya ketika hubungannya sudah berakhir. Jadi ketika para lelaki ini ingin marah, mereka harus ingat bahwa mereka bukanlah siapa-siapa lagi.
Aku ingat sekitar tahun 2020, aku adalah versi yang luar biasa jahat karena membalas pengkhianatan yang dilakukan mantan kekasihku berkali-kali lipat, sampai aku merasa puas kemudian meninggalkannya.
Harusnya, jika aku tidak cukup dewasa tahun ini, aku juga bisa melakukan hal yang sama. Sayang sekali pengendalian diriku cukup baik walaupun masih ada beberapa hal diluar kendaliku yang kulakukan karena rasa marah dan kecewa yang cukup besar.
Do I still miss him?
Sometimes.
Did I regret that I met him?
Obviously.
Jika aku tahu pada akhirnya dia akan memantik sisi marah, sedih, dan kecewaku sedalam ini, sudah pasti aku akan membiarkannya menunggu di tempat yang menjadi pertemuan pertama kita tanpa pernah melihatku seujung rambut pun. Atau harusnya aku berkilah pamit ke toilet dan memilih pergi, alih-alih mendengarkannya bercerita dengan seluruh perhatianku.
There is a saying that “if you are so sure then burn the ship.”
Been lingering on my mind for these past five months.
Yang berarti jika kau benar-benar yakin, maka bakarlah kapal yang menjadi perantaramu untuk menoleh ke belakang. Mantapkanlah pandanganmu untuk melangkah ke depan tanpa pernah kembali pada kapal yang membawamu ke masa lalu itu.
Should I do that? Probably.
But I can not fucking do that.
I wish it is an easy thing to do.. as easy as it was when you betrayed and lied to me.
Tapi bodohnya, ada bagian kecil dari diriku yang menolak. Bahkan hati kecil nan bodoh ini jika dibiarkan malah menyimpan harapan. Padahal sudah jelas tidak ada yang bisa kuharapkan dari lelaki seperti itu. It was just the blind leading the blind.
I’m fucking blind.
Sebesar-besarnya inginku untuk terus mengikuti kata hatiku yang bodoh, otak dan rasionalitas yang kupunya jauh lebih pintar. Walaupun aku selalu gagal ‘mendidik’ hatiku terlepas sedemikian banyak pengalaman dan kepahitan yang kualami, setidaknya otak dan akalku mampu berpikir tajam dan cermat.
I know I deserve better than this.
Melewati fase kehilangan yang berat bukan berarti harus kembali dan mengulang semuanya. Buku yang sudah pernah dibaca tidak akan memberikan ending yang berbeda hanya karena kau membacanya dua kali.
Mungkin manusia sialan yang kutemui kali ini hanya hadir sesaat untuk mengingatkanku bahwa seberapa besar upayaku untuk menghindari kehilangan, pada akhirnya itu adalah fase kehidupan yang tidak bisa dilewati. Mungkin aku kembali diingatkan untuk tidak mencintai sebegitu dalamnya. Bahwa memiliki chemistry yang hebat bukan berarti kau akan mempunyai hubungan yang sama hebatnya dengan orang tersebut.
Shit.
Bahkan ketika tulisan ini hendak berakhir, kemarahanku belum kunjung reda.
What the actual fuck should I do about it?
Entahlah. Aku juga sama bingungnya.
Biarlah tulisan ini kucukupkan disini. Terimakasih sudah membaca.
Mengenai tulisan Efek Samping Kehilangan, bisa dibaca disini ya:
https://distraksimalamhari.blogspot.com/2024/05/bagian-tujuh-belas-efek-samping.html
Komentar
Posting Komentar