Bagian Tiga Puluh Satu: Ngobrolin Pernikahan

    


    Sejak beberapa tahun belakangan, setiap kali aku membuka laman Instagram, hal pertama yang kulihat tidak lain tidak bukan adalah foto-foto kerabat yang lamaran, menikah, bridal shower, maternity shoot, dan sebagainya. Pokoknya tidak jauh-jauh dari membangun keluarga. Di umurku yang tahun ini menginjak 26, memang menikah menjadi hal yang umum untuk dilakukan orang-orang sebayaku.

        And the question here, how do I really feel about it?

    Aku pernah menuliskan pemikiranku tentang pernikahan sekitar 7 tahun yang lalu disini–tepatnya pada tahun 2019 kala aku berusia 19 tahun. Saat itu, aku berkata bahwa menikah belum menjadi prioritas hidupku selama 5 tahun kedepan. Dan pertanyaannya, apakah setelah 7 tahun berlalu, jawabanku sudah berubah?

    The answer is still no. Unfortunately.

    Teman-temanku bahkan sampai beberapa kali memastikan apakah aku sudah punya niatan untuk menikah atau belum. Mereka bilang, kalau tidak menikah nanti ketika tua tidak ada yang menemani, ada juga yang bilang menikah akan memberi legalitas hukum bagi perempuan, dan beragam alasan lainnya.

    Bahkan, ada juga yang berkilah begini “Mungkin emang kamu belum ketemu orang yang bikin kamu pengen nikah kali, Mi.” Hmm, interesting thought. 

    But no, even when I feel the person that I’m dating is the right one, the urge to marry him is just not there.

    Aku tetap pada pendirianku, bahwa menikah itu tidak untuk semua orang, termasuk diriku.

    Alasan utamanya adalah karena sedari kecil, aku sudah memutuskan untuk childfree. Aku bukanlah perempuan yang membayangkan diriku menjadi seorang Ibu. The idea of giving birth and raising a kid was never in my calling. Aku tidak ada panggilan sama sekali untuk hamil, melahirkan, dan menjadi Ibu. I don’t even like kids. Membesarkan anak tentu membutuhkan komitmen seumur hidup. Belum lagi kematangan emosional yang harus dimiliki sebagai orangtua, urusan nafkah, dan beragam tanggungjawab lainnya.

    Call me selfish and egoistic as you want, tapi untuk mengorbankan kebebasanku sebagai seorang individu dan melahirkan seorang anak di dunia yang sudah kutahu betul seluk beluknya ini.. merupakan keputusan yang menurutku jauh lebih egois.

    Besar menjadi anak seorang bidan yang kerap berurusan dengan banyak Ibu hamil yang memilih melahirkan dirumah–ditangan Ibuku sendiri, membuatku tahu sekali betapa berat, dan berisikonya melahirkan. Hell, sampai sekarang pun aku masih trauma karena pernah tidak sengaja melihat video melahirkan dengan cara caesar tanpa sensor milik Ibuku dulu ketika zaman kuliah. Tebak saat itu umurku berapa? Aku masih 8 tahun. Hahaha. 

    Sejak saat itu aku bersumpah bahwa aku tidak akan mau melahirkan.

    Bahkan pasanganku sendiri pernah mencoba membujukku dan berkata “Mungkin kalau kamu punya anak kandungmu sendiri kamu bakal sayang banget sama anakmu,” Make sense for some people, but I’d rather not. 

    Kalau aku jadi laki-laki yang tinggal menghamili perempuan tanpa harus merasakan segala susahnya hamil, melahirkan, post-partum depression, baby blues, dan lain sebagainya.. aku juga mau kok punya anak. 

    Itu baru satu alasan kenapa diriku tidak ingin menikah. Belum lagi jika berbicara mengenai isu komitmen yang kumiliki. Tumbuh dengan kedua orangtua yang hubungannya tidak stabil secara relasi, emosi, maupun individu membuatku harus mempertimbangkan seribu kali jika ingin menikah. Aku tidak ingin mengulang pola yang sama. Aku tidak mau capek-capek menghabiskan energi untuk berdebat, marah-marah, dan segala macam konflik yang tidak bisa dihindari oleh pasangan suami istri. Menurutku, menikah banyak pusingnya ketimbang enaknya. Karena itulah pemandangan yang kulihat sehari-hari sejak aku kecil.

    Bahkan setiap aku memulai hubungan baru dengan laki-laki, aku selalu menyampaikan diawal bahwa aku tidak berminat menikah dan mempunyai anak. Take it or leave it. Kalau ditanya jadi maunya pacaran aja terus? Jawabannya iya. Kalau bisa setiap selesai nge-date kita lebih baik pulang saja kerumah masing-masing. Kecuali laki-laki tersebut juga memang memilih childfree dan bersedia vasektomi, mungkin aku akan mempertimbangkannya.

    Tiga tahun lalu ketika aku menjalani ibadah umroh, aku sempat berdoa meminta jodoh dan menyebutkan semua kriteria yang sudah kutulis di memo ponselku, namun semakin kesini aku mengganti doa-doa tersebut “Jika memang menikah bukan untukku, maka tolong hilangkanlah keinginan ini.” Boom. Sampai hari ini, tiga tahun kemudian, malah keinginanku untuk menikah sirna sudah dengan beragam alasan yang menurutku cukup logis.

    Berdasarkan analisa pribadiku terhadap diriku sendiri, dari dulu aku juga bukanlah orang yang butuh banget punya pasangan. Kebanyakan hubungan yang kujalani semuanya berumur jagung, kalaupun ada yang lama itu juga karena kami terpisah jarak. Selebihnya, aku mampu hidup sendiri dalam waktu yang cukup lama.

    Karena jika kuperhatikan orang-orang disekelilingku, rata-rata yang ingin menikah ataupun sudah menikah ya karena mereka memang ‘butuh’ ditemani. Kebanyakan tidak pernah bahkan tidak ada yang menjomblo lama seperti diriku sejak zaman sekolah. Terlepas dari dinamika keluarga yang mereka miliki.

    Aku malah seringkali membayangkan kelak ketika memasuki usia kepala tiga atau kepala empat, aku hanya tinggal sendiri dirumah sederhana yang gak kecil-kecil amat tapi juga tidak terlalu besar, ditemani satu atau dua ekor kucingku. Sedari kecil, aku sudah terlatih untuk berdiam dirumah seorang diri dan pergi kemana-mana sendirian. Aku juga tidak merasa kemampuan sosialku buruk sampai-sampai aku harus menjadi anti sosial karena selalu sendiri.

    Bisa dibilang aku cukup nyaman dengan kesendirianku. Tapi aku juga tidak keberatan dan kesusahan jika harus berada dalam keramaian. It’s a skill called solitude*.

    *Solitude is the state of being completely alone in a calm, peaceful, and positive way. It is a deliberate choice to spend quiet time with yourself, offering a chance to rest, think, and feel refreshed without any stress.

    Banyak sekali hal yang bisa kulakukan seorang diri. Aku bisa berpikir, menganalisa, menulis seperti ini, bernyanyi, menggambar, berjoget, mengurus kucing, olahraga, dan lainnya. Kurasa dengan menikah dan mempunyai anak pasti sebagai perempuan di dunia patriarki ini, akan menyita sebagian besar waktuku yang bisa kuhabiskan seorang diri.

    So you don’t want to lose your freedom and free time?

    I might say yes.

    Sahabatku juga saking tidak percayanya akan keputusan dan alasanku, dia bilang begini “Ah mungkin karena kamu masih muda kali, Mi. Masih 25 tahun. Coba kita lihat 10 tahun lagi.”

    Well let’s just see.

    Aku juga sama penasarannya apakah aku akan berubah pikiran atau tidak 10 tahun yang akan datang. But I doubt it, hehe.

    Dengan realitas pernikahan yang rasanya kian hari kian mengerikan.. mulai dari perselingkuhan, KDRT, kekerasan finansial, konflik dengan mertua, ipar, dan sebagainya, kurasa memilih tidak menikah jauh lebih damai. Bukan berarti aku skeptis dengan pernikahan. Aku juga tahu bahwa banyak diluar sana pasangan suami istri yang berhasil dengan pernikahannya, tapi seberapa banyak sih?

    And for the sake of God, I just have the believe that every man you’ll meet will did you dirty. Eventually.

    Oh iya, jangan lupakan fakta statistik yang berbicara bahwa wanita yang tidak memilih menikah, secara kualitas hidup lebih bahagia ketimbang wanita yang memilih untuk menikah. Berbanding terbalik dengan laki-laki, yang justru lebih bahagia jika menikah ketimbang tidak menikah. This world is full of patriarchy so bad that I think if marriage benefits woman, man already destroyed the idea of marriage since long time ago.

    Tidak ada rasa iri sama sekali jika melihat kerabat atau siapapun itu yang memilih menikah dan punya anak. Tidak ada rasa “when ya?” seperti yang digaungkan banyak Gen-Z belakangan. Hanya kesadaran bahwa setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing and I’m totally happy for them.

    Kalau dibilang pilihan yang kubuat ini berdasarkan trauma dan sebagainya.. mungkin juga iya. Namun bukankah semua keputusan manusia sedikit banyak terbentuk oleh pengalaman hidupnya? Percayalah aku sudah sedemikian rupa berusaha untuk mengobati semua luka masa kecilku. Pilihanku ini murni karena pilihan orang dewasa dengan segala hasil observasi sekelilingnya. Tidak lupa juga observasi terhadap diriku sendiri. Justru karena aku kenal sekali dengan diriku makanya aku berani menuliskan ini.

    Tentang 5 atau 10 tahun lagi apakah aku akan menuliskan pemikiranku ini dalam status sudah menjadi istri orang atau belum.. let’s just see how it goes.

    Doakan aja terus yang terbaik yah. Hehehe.

    Untuk tulisanku mengenai pernikahan yang kutulis 7 tahun yang lalu, bisa dibaca disini 

https://distraksimalamhari.blogspot.com/2019/01/bagian-lima-berbicara-tentang-pernikahan.html




Komentar